Connect with us

News

Imigrasi Jaring 170 WNA dalam Operasi Wira Waspada

Published

on

Yuldi Yusman, dalam konferensi pers pada Jumat (15/05/2025).

JAKARTA – Direktorat Jenderal Imigrasi berhasil mengamankan sebanyak 170 warga negara asing (WNA) dari 27 negara dalam operasi Wira Waspada yang digelar pada 14 s.d. 16 Mei 2025 di Jadetabek. Dari jumlah tersebut, sebanyak 25 orang di antaranya tidak dapat menunjukkan dokumen perjalanan, 25 orang diduga memberikan keterangan yang tidak benar, 24 orang diduga memiliki sponsor/penjamin fiktif dan 10 orang overstay.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Imigrasi, Yuldi Yusman, menjelaskan bahwa pengamanan dilakukan berdasarkan laporan masyarakat serta hasil pemantauan lapangan oleh petugas.

“Pengawasan dimulai pada hari Rabu, 14 Mei, sekitar pukul 09.00. Tim dari Direktorat pengawasan dan Penindakan Keimigrasian melakukan koordinasi awal dengan Pihak-pihak terkait, kemudian kami membagi regu untuk menyambangi lokasi para WNA yang berada dibeberapa apartemen di Jadetabek yang menjadi target operasi. Selain itu, tim juga menyambangi beberapa kafe di Jakarta Pusat serta pusat perbelanjaan di Jakarta Barat. Petugas berhasil menjaring 170 WNA yang diduga bermasalah secara keimigrasian dan saat ini sedang kami lakukan pendalaman di ruang detensi Direktorat Jenderal Imigrasi,” jelas Yuldi dalam konferensi pers pada Jumat (15/05/2025).

Yuldi menerangkan, WNA yang diamankan dalam operasi ini paling banyak berasal dari Nigeria (61 orang), Kamerun (27 orang), Pakistan (14 orang), Sierra Leone (12 orang), Pantai Gading(8 orang) dan Gambia (8 orang). Para WNA tersebut diduga telah melanggar Undang-UndangNomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, antara lain Pasal 78 Undang-Undang Nomor 6Tahun 2011 tentang Keimigrasian mengenai Orang Asing Pemegang Izin Tinggal yang berada di wilayah Indonesia dan melebihi masa berlakunya.

Mereka juga melanggar Pasal 123 yang menyebutkan, setiap orang yang dengan sengaja memberikan surat atau data palsu atau yang dipalsukan atau keterangan tidak benar dengan maksud untuk memperoleh Visa atau Izin Tinggal bagi dirinya sendiri atau orang lain dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp500.000.000 (lima ratus juta rupiah).

Para WNA tersebut juga dapat dikenakan Tindakan Administrasi Keimigrasian berupa Pendeportasian dan Pencantuman dalam Daftar penangkalan.

Operasi Wira Waspada kali ini menjadi operasi ketiga yang dilaksanakan pada tahun 2025. Sebelumnya, operasi serupa telah diadakan di wilayah Bali, Maluku Utara, serta kawasan industri Morowali dan Tobelo. Dalam operasi ini, sepuluh kantor imigrasi yang berlokasi diJakarta, Tangerang, Bekasi, dan Depok turut bertugas. Operasi ini merupakan pengembangan dari adanya beberapa kasus WNA yang melanggar aturan dengan membuat keributan ditempat umum.

 

Yuldi menegaskan bahwa Direktorat Jenderal Imigrasi akan terus memperkuat pengawasanterhadap keberadaan dan aktivitas WNA di Indonesia.

 

“Imigrasi akan menindak tegas warga negara asing yang tidak mematuhi peraturan keimigrasian. Kami juga mengimbau kepada pengelola dan pemilik penginapan untuk melaporkan keberadaan WNA,” tutur Yuldi.

 

Dalam kesempatan berbeda, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto menegaskan operasi pengawasan seperti ini terus dilaksanakan secara rutin dan dalam skala nasional demi kedaulatan negara.

“Operasi Wira Waspada merupakan bagian dari upaya simultan kami dalam menegakkan hukum keimigrasian untuk mencegah gangguan ketertiban umum dan menekan potensi tindak kriminal oleh WNA nakal yang melanggar aturan,” tutup Menteri Agus.(**)

Continue Reading

News

IMI dan Kadin Sultra Gelar Ramadhan Touring 2026, AYP Pastikan Hadir

Published

on

By

AYP, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia

KENDARI — Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sulawesi Tenggara bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sultra kembali menggelar kegiatan sosial bertajuk Ramadhan Touring 2026 yang akan dilaksanakan pada 6–7 Maret 2026 di sejumlah kabupaten di Sulawesi Tenggara.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia sekaligus Wasekjen PP IMI, Andi Yuslim Patawari (AYP), menyatakan dukungannya terhadap kegiatan tersebut.

“Kegiatan ini harus kita dukung sebagai bukti nyata kepedulian IMI dan Kadin di bulan Ramadan untuk berbagi kepada sesama. InsyaAllah saya akan hadir dalam kegiatan tersebut,” ujar AYP. Selasa (3/3/2026).

AYP menambahkan, kegiatan ini diharapkan memberi manfaat tidak hanya bagi organisasi, tetapi juga bagi masyarakat yang menjadi sasaran bakti sosial.

“Semoga kegiatan ini memberi dampak positif bagi organisasi dan masyarakat luas,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sultra yang juga Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Sultra, Anton Timbang, mengatakan Ramadhan Touring merupakan agenda tahunan kedua organisasi sebagai bentuk kepedulian sosial.

“Ini adalah agenda rutin IMI dan Kadin Sultra setiap Ramadan. Selain mempererat silaturahmi antaranggota, kegiatan ini juga menjadi momen berbagi kepada masyarakat,” jelas Anton.

Berdasarkan peta jalur dan itinerary, kegiatan Ramadhan Touring 2026 akan dimulai dari Rumah Kediaman Ketua Kadin dan IMI Sultra di Kota Kendari pada Jumat (6/3/2026) pagi.

Dari Kendari, rombongan bergerak menuju Konawe Selatan untuk melaksanakan bakti sosial di salah satu pesantren. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Kabupaten Bombana dengan agenda bakti sosial di pesantren, peninjauan Sirkuit GTX Porprov 2026, serta pelaksanaan Salat Jumat bersama masyarakat setempat.

Setelah itu, rombongan bertolak ke Kolaka dan beristirahat di rest area untuk melaksanakan buka puasa dan sahur bersama, sekaligus membuka Gerakan Pangan Murah Kadin Sultra sebagai bentuk dukungan terhadap stabilitas kebutuhan pokok masyarakat.

Memasuki hari kedua, Sabtu (7/3/2026), kegiatan dilanjutkan dengan perjalanan menuju Kolaka Timur untuk kembali menggelar bakti sosial di pesantren. Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut ke Kabupaten Konawe dengan agenda bakti sosial, buka puasa bersama, serta silaturahmi dengan pengurus Kadin dan IMI Kabupaten Konawe.

Seluruh rangkaian touring dijadwalkan berakhir di Kota Kendari pada Sabtu malam.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang kebersamaan komunitas otomotif dan dunia usaha, tetapi juga memperkuat peran sosial organisasi dalam mendukung kesejahteraan masyarakat di bulan suci Ramadan. (**)

Continue Reading

News

Pelaku Industri Sepakat, Penguatan SDM Jadi Prioritas Pariwisata Sultra

Published

on

By

KENDARI24.COM – Forum Silaturrahmi Pentahelix Pariwisata Sulawesi Tenggara menjadi momentum penguatan strategi pengembangan pariwisata berbasis kolaborasi lintas sektor. Kegiatan yang digelar di RM Kampoeng Wisata Khas Sulawesi, menghadirkan unsur pemerintah, asosiasi industri, komunitas hingga pelaku ekonomi kreatif. Senin (02/03/26).

Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara, Ridwan Badallah, menegaskan forum tersebut merupakan langkah awal mendukung visi Gubernur dalam membangun ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif yang terintegrasi.

“Ini langkah awal untuk membantu Bapak Gubernur membangun ekosistem pariwisata melalui kolaborasi pentahelix, termasuk komunitas, perbankan, dan maskapai,” ujar Ridwan. Senin (2/3/2026).

Ia menjelaskan, konsep besar yang tengah disiapkan adalah menjadikan Sulawesi Tenggara sebagai satu kesatuan sistem destinasi, dengan Kendari sebagai simpul utama konektivitas udara.

Menurutnya, Kendari harus berfungsi sebagai kota penyangga sebelum wisatawan melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi unggulan seperti Wakatobi, Muna, maupun Baubau.

“Kendari harus menjadi penyangga utama. Dari sini wisatawan bisa melanjutkan perjalanan ke Wakatobi, Muna, Baubau dan daerah lainnya. Ke depan, kita harapkan penerbangan tidak lagi terintegrasi melalui Makassar, tetapi bisa langsung dari Jakarta ke Kendari,” jelasnya.

Ridwan menilai penerbangan langsung akan memberi dampak ekonomi signifikan, karena wisatawan berpotensi menginap dan berbelanja di Kendari sebelum menuju destinasi lanjutan.

Selain konektivitas udara, Pemprov juga menyiapkan program berbasis komunitas, seperti pengaktifan ruang publik setiap akhir pekan melalui olahraga air, pertunjukan seni, hingga pengembangan rumah ekonomi kreatif. Kawasan pelabuhan pun disiapkan untuk mendukung kunjungan kapal wisata atau yacht.

“Kita akan rutin berdiskusi setiap bulan untuk mendapatkan input tentang apa yang harus dilakukan pemerintah. Ini bagian dari membangun kemitraan yang kuat,” tambahnya.

Dari sisi pelaku industri, Ketua DPD Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Sultra, Rahman Rahim, menilai potensi pariwisata daerah sangat besar, namun harus ditopang kesiapan teknis dan kualitas layanan.

“Potensi Sulawesi Tenggara ini luar biasa. Sayang kalau sumber daya alam kita tidak dimanfaatkan untuk kemajuan bersama dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan asosiasi seperti ASITA, ASTINDO, dan HPI berada di garda terdepan dalam pelayanan wisata.

“Pemerintah sebagai regulator dan fasilitator, tetapi kami pelaku teknis yang memahami kebutuhan wisatawan. Karena itu sinergi sangat penting,” katanya.

Rahman juga menyoroti pentingnya standar operasional prosedur (SOP) pelayanan.

“Kalau pelayanan tidak sesuai ekspektasi, tamu bisa komplain dan itu berdampak pada citra daerah. Kami bahkan tidak berani menjual paket wisata jika destinasi belum siap menerima tamu,” tegasnya.

Senada dengan itu, Ketua ASTINDO Sultra, Sartika, menekankan kesiapan sumber daya manusia (SDM) menjadi prasyarat utama sebelum promosi besar-besaran dilakukan.

“Yang paling utama kita dorong adalah SDM. Kita harus melihat apakah sudah siap menjadi kota wisata, bukan hanya secara identitas, tetapi juga kapasitas pelakunya,” ujarnya.

Ketua DPD HPI Sultra, Femiyanti Darma Kamang, menyatakan pihaknya fokus pada peningkatan kapasitas pemandu wisata serta penguatan regulasi kompetensi.

“Kami lebih fokus pada peningkatan kapasitas SDM. Regulasi terkait pengembangan SDM perlu diperhatikan agar kualitas layanan semakin baik,” katanya.

Sementara itu, perwakilan GenPI Sultra, Ade Wijaya, menekankan pentingnya branding dan promosi digital.

“Branding itu penting. Tanpa promosi yang konsisten, kita tidak bisa mengembangkan potensi yang ada. Media sosial menjadi langkah efektif untuk menjangkau pasar lebih luas,” ujarnya.

Seluruh narasumber sepakat, pengalaman positif wisatawan menjadi kunci promosi jangka panjang. Wisatawan yang puas akan menjadi agen promosi alami bagi destinasi.

Forum ini diharapkan menjadi fondasi penguatan sinergi dalam membangun ekosistem pariwisata Sulawesi Tenggara yang terintegrasi, berdaya saing, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.(**)

Continue Reading

News

ASITA dan Dispar Perkuat Sinergi Pentahelix Menuju Pariwisata Berkelanjutan di Sultra

Published

on

By

KENDARI24.COM — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Sulawesi Tenggara bersama Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara menggelar Forum Silaturahmi Pentahelix Pariwisata Sultra yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama, Senin (2/3/2026), di RM Kampoeng Wisata Khas Sulawesi, Kendari.

Forum bertema “Penguatan Mitigasi dan Kolaborasi Kemitraan Menuju Pariwisata Berkelanjutan dan Inklusif” ini menjadi ruang diskusi strategis bagi unsur pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, dan media.

Ketua DPD ASITA Sultra, Rahman Rahim, menegaskan pentingnya kolaborasi konkret dalam membangun daya tahan sektor pariwisata daerah.

“Forum ini bukan sekadar silaturahmi, tetapi momentum memperkuat sinergi pentahelix. Pariwisata tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada kolaborasi nyata agar kita mampu menghadapi tantangan ekonomi, sosial, hingga dinamika global,” ujarnya.

Ia menambahkan, mitigasi risiko harus menjadi bagian dari perencanaan jangka panjang agar sektor pariwisata Sultra tetap stabil dan kompetitif.

Senada dengan itu, Kepala Dinas Pariwisata Sultra, Ridwan Badallah, menekankan bahwa pendekatan pentahelix menjadi kunci memperkuat daya saing destinasi.

“Kita akan terus berkolaborasi dan berdiskusi bersama sehingga terbentuk ekosistem pariwisata yang berjalan terpadu. Kemitraan yang inklusif penting agar manfaat ekonomi bisa dirasakan masyarakat secara merata,” kata Ridwan.

Dalam sesi diskusi, pegiat pariwisata Sultra, Deden, menyoroti minimnya kalender event daerah.

“Selain Halo Sultra, kita belum memiliki kalender event yang konsisten. Padahal event rutin sangat penting untuk menarik kunjungan wisatawan dan menjaga perputaran ekonomi,” ungkapnya.

Sementara itu, Mahmud, sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHKRI) Sultra mengingatkan pentingnya segmentasi pasar wisata.

“Kita perlu memetakan siapa saja yang bisa datang ke lokasi wisata kita. Apa yang membuat orang tertarik keliling di Sultra? Yang terpenting adalah bagaimana wisatawan merasa nyaman dan aman saat berkunjung,” ujarnya.

Mahmud menegaskan bahwa sektor pariwisata memiliki efek berganda terhadap perekonomian daerah.

“Pariwisata itu memiliki multiplier effect. Kalau sektor ini bergerak baik, hotel, rumah makan, warung kopi hingga penerimaan pajak daerah juga ikut meningkat,” jelasnya.

Forum juga membahas penguatan promosi destinasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia pariwisata, serta strategi mitigasi krisis yang berpotensi memengaruhi industri pariwisata.

Melalui kegiatan ini, para pemangku kepentingan berharap terbangun komitmen bersama dalam menciptakan ekosistem pariwisata Sulawesi Tenggara yang tangguh, adaptif, dan berorientasi pada keberlanjutan. Kegiatan ditutup dengan buka puasa bersama sebagai ajang mempererat silaturahmi antarpelaku pariwisata daerah.(**)

Continue Reading

Trending