Connect with us

News

Pelaku Industri Sepakat, Penguatan SDM Jadi Prioritas Pariwisata Sultra

Published

on

KENDARI24.COM – Forum Silaturrahmi Pentahelix Pariwisata Sulawesi Tenggara menjadi momentum penguatan strategi pengembangan pariwisata berbasis kolaborasi lintas sektor. Kegiatan yang digelar di RM Kampoeng Wisata Khas Sulawesi, menghadirkan unsur pemerintah, asosiasi industri, komunitas hingga pelaku ekonomi kreatif. Senin (02/03/26).

Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara, Ridwan Badallah, menegaskan forum tersebut merupakan langkah awal mendukung visi Gubernur dalam membangun ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif yang terintegrasi.

“Ini langkah awal untuk membantu Bapak Gubernur membangun ekosistem pariwisata melalui kolaborasi pentahelix, termasuk komunitas, perbankan, dan maskapai,” ujar Ridwan. Senin (2/3/2026).

Ia menjelaskan, konsep besar yang tengah disiapkan adalah menjadikan Sulawesi Tenggara sebagai satu kesatuan sistem destinasi, dengan Kendari sebagai simpul utama konektivitas udara.

Menurutnya, Kendari harus berfungsi sebagai kota penyangga sebelum wisatawan melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi unggulan seperti Wakatobi, Muna, maupun Baubau.

“Kendari harus menjadi penyangga utama. Dari sini wisatawan bisa melanjutkan perjalanan ke Wakatobi, Muna, Baubau dan daerah lainnya. Ke depan, kita harapkan penerbangan tidak lagi terintegrasi melalui Makassar, tetapi bisa langsung dari Jakarta ke Kendari,” jelasnya.

Ridwan menilai penerbangan langsung akan memberi dampak ekonomi signifikan, karena wisatawan berpotensi menginap dan berbelanja di Kendari sebelum menuju destinasi lanjutan.

Selain konektivitas udara, Pemprov juga menyiapkan program berbasis komunitas, seperti pengaktifan ruang publik setiap akhir pekan melalui olahraga air, pertunjukan seni, hingga pengembangan rumah ekonomi kreatif. Kawasan pelabuhan pun disiapkan untuk mendukung kunjungan kapal wisata atau yacht.

“Kita akan rutin berdiskusi setiap bulan untuk mendapatkan input tentang apa yang harus dilakukan pemerintah. Ini bagian dari membangun kemitraan yang kuat,” tambahnya.

Dari sisi pelaku industri, Ketua DPD Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Sultra, Rahman Rahim, menilai potensi pariwisata daerah sangat besar, namun harus ditopang kesiapan teknis dan kualitas layanan.

“Potensi Sulawesi Tenggara ini luar biasa. Sayang kalau sumber daya alam kita tidak dimanfaatkan untuk kemajuan bersama dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan asosiasi seperti ASITA, ASTINDO, dan HPI berada di garda terdepan dalam pelayanan wisata.

“Pemerintah sebagai regulator dan fasilitator, tetapi kami pelaku teknis yang memahami kebutuhan wisatawan. Karena itu sinergi sangat penting,” katanya.

Rahman juga menyoroti pentingnya standar operasional prosedur (SOP) pelayanan.

“Kalau pelayanan tidak sesuai ekspektasi, tamu bisa komplain dan itu berdampak pada citra daerah. Kami bahkan tidak berani menjual paket wisata jika destinasi belum siap menerima tamu,” tegasnya.

Senada dengan itu, Ketua ASTINDO Sultra, Sartika, menekankan kesiapan sumber daya manusia (SDM) menjadi prasyarat utama sebelum promosi besar-besaran dilakukan.

“Yang paling utama kita dorong adalah SDM. Kita harus melihat apakah sudah siap menjadi kota wisata, bukan hanya secara identitas, tetapi juga kapasitas pelakunya,” ujarnya.

Ketua DPD HPI Sultra, Femiyanti Darma Kamang, menyatakan pihaknya fokus pada peningkatan kapasitas pemandu wisata serta penguatan regulasi kompetensi.

“Kami lebih fokus pada peningkatan kapasitas SDM. Regulasi terkait pengembangan SDM perlu diperhatikan agar kualitas layanan semakin baik,” katanya.

Sementara itu, perwakilan GenPI Sultra, Ade Wijaya, menekankan pentingnya branding dan promosi digital.

“Branding itu penting. Tanpa promosi yang konsisten, kita tidak bisa mengembangkan potensi yang ada. Media sosial menjadi langkah efektif untuk menjangkau pasar lebih luas,” ujarnya.

Seluruh narasumber sepakat, pengalaman positif wisatawan menjadi kunci promosi jangka panjang. Wisatawan yang puas akan menjadi agen promosi alami bagi destinasi.

Forum ini diharapkan menjadi fondasi penguatan sinergi dalam membangun ekosistem pariwisata Sulawesi Tenggara yang terintegrasi, berdaya saing, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.(**)

Continue Reading

News

KKJ Sultra Kecam Pemanggilan Jurnalis dan Ketua JMSI oleh Penyidik Polda Sultra

Published

on

By

KENDARI24.COM – Komite Keselamatan Jurnalis Sulawesi Tenggara (KKJ Sultra) mengecam pemanggilan jurnalis Kendarikini, Irvan, serta Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Sultra, Adi Yaksa Pratama, oleh penyidik Ditreskrimsus Polda Sultra.

Keduanya dipanggil terkait laporan dugaan pencemaran nama baik sebagaimana Pasal 433 ayat (1) dan (2) subsider Pasal 343 ayat (1) juncto Pasal 441 KUHP baru yang dilaporkan Kepala Dinas Pariwisata Sultra, Ridwan Badallah.

Pemanggilan tersebut berkaitan dengan pemberitaan berjudul “JMSI Sultra Adukan Pemilik Akun @eRBe#bersuara ke Polda Sultra Soal Pencemaran Nama Baik Media” yang ditulis Irvan, dengan Adi Yaksa Pratama sebagai narasumber.

Laporan Ridwan Badallah tercatat dalam Surat Perintah Penyelidikan Nomor: SP.Lidik/201/II/Res.2.5/Ditreskrimsus tertanggal 6 Februari 2026.

Ketua KKJ Sultra, Fadli Aksar, menilai pemanggilan jurnalis dan narasumber dalam perkara pemberitaan merupakan langkah yang tidak tepat karena sengketa jurnalistik seharusnya diselesaikan melalui mekanisme Undang-Undang Pers.

“Sengketa pemberitaan bukan perkara pidana, melainkan persoalan etik jurnalistik yang mekanismenya melalui hak jawab, hak koreksi, dan penilaian Dewan Pers, bukan langsung diproses secara pidana,” ujar Fadli dalam keterangan resminya. Selasa (10/3/2026).

Menurutnya, prinsip tersebut juga telah diperkuat melalui putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 145/PUU-XXIII/2025 yang menegaskan sengketa produk jurnalistik wajib terlebih dahulu melalui mekanisme Dewan Pers sebelum menempuh jalur hukum pidana atau perdata.

Selain itu, KKJ Sultra juga menilai pemanggilan terhadap jurnalis tersebut berpotensi bertentangan dengan Perjanjian Kerja Sama antara Kepolisian dan Dewan Pers Nomor 01/PK/DP/XI/2022 – PKS/44/XI/2022 tentang Perlindungan Kemerdekaan Pers dan Penegakan Hukum terhadap Penyalahgunaan Profesi Wartawan.

KKJ Sultra menilai pemanggilan tersebut berpotensi menjadi bentuk intimidasi terhadap jurnalis dan narasumber yang dapat mengancam kebebasan pers.

“Jika hal ini dibiarkan, maka akan menjadi preseden buruk bagi kebebasan pers dan kebebasan berekspresi di Sulawesi Tenggara,” katanya.

Dalam pernyataan sikapnya, KKJ Sultra mendesak Polda Sultra menghentikan penyelidikan terhadap Irvan dan Adi Yaksa Pratama serta menyerahkan penyelesaian sengketa tersebut melalui mekanisme Dewan Pers.

KKJ Sultra juga mengingatkan seluruh pihak yang keberatan terhadap pemberitaan agar menempuh mekanisme hak jawab, hak koreksi, atau melapor ke Dewan Pers sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.

Continue Reading

News

Polda Sultra Periksa Senpi Personel, Pastikan Penggunaan Sesuai Prosedur

Published

on

By

KENDARI24.COM – Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar pemeriksaan senjata api (senpi) milik personel dari berbagai satuan kerja (satker), Senin (9/3/2026) sore.

Pemeriksaan tersebut dilakukan oleh Inspektorat Pengawasan Daerah (Itwasda) bersama Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Polda Sultra sebagai bagian dari pengawasan internal terhadap penggunaan senjata api dinas di lingkungan kepolisian.

Kegiatan ini turut dihadiri Kapolda Sultra Irjen Pol Didik Agung Widjanarko, Wakapolda Sultra Brigjen Pol Gidion Arief Setyawan, Irwasda Kombes Pol Hartoyo, Karolog Kombes Pol Lilik Istiyono, serta para pejabat utama Polda Sultra.

Auditor Kepolisian Madya (AKM) Itwasda Polda Sultra Kombes Pol Achmad Fathul Ulum menjelaskan, pemeriksaan senpi merupakan bagian dari pengawasan melekat (waskat) yang rutin dilakukan terhadap personel pemegang senjata api dinas.

“Pemeriksaan ini bertujuan memastikan penggunaan senjata api dinas oleh personel Polri sesuai prosedur dan standar yang berlaku, sehingga dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan,” ujar Fathul.

Ia menjelaskan, pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh baik secara fisik maupun administrasi. Pemeriksaan fisik meliputi kebersihan serta fungsi senjata, sementara pemeriksaan administrasi mencakup masa berlaku kartu tanda pemegang senjata api, pencocokan nomor seri senjata, serta jumlah amunisi yang dimiliki personel.

Selain itu, kondisi personel pemegang senpi juga menjadi bagian dari evaluasi. Setiap anggota yang memegang senjata api diwajibkan telah mengikuti tes psikologi serta dinyatakan sehat secara jasmani dan rohani.

Dalam pengawasan tersebut, senjata api juga dapat ditarik apabila izin pemegangnya telah berakhir atau tidak lagi memenuhi syarat administratif.

Pengawasan penggunaan senjata api oleh personel Polri memiliki dasar hukum yang jelas, di antaranya Peraturan Kapolri Nomor 1 Tahun 2009 dan Nomor 8 Tahun 2009 tentang penggunaan kekuatan, serta Peraturan Kepolisian Nomor 1 Tahun 2022 tentang perizinan, pengawasan, dan pengendalian senjata api standar Polri.

Selain itu, Perkapolri Nomor 4 Tahun 2025 juga menjadi pedoman terbaru terkait tindakan tegas dan terukur dalam penggunaan senjata api, khususnya saat menghadapi ancaman serius di lapangan.

Melalui pengawasan ini, Polri berupaya mencegah potensi penyalahgunaan senjata api oleh personel, meningkatkan disiplin serta tanggung jawab anggota, sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian.(**)

Continue Reading

News

Liputan Berujung Kekerasan, IJTI Kutuk Penganiayaan Jurnalis TVOne di Bangka

Published

on

By

Herik Kurniawan, Ketua Umum IJTI

PANGKALPINANG — Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengurus Daerah Bangka Belitung mengutuk keras dugaan penganiayaan dan ancaman pembunuhan terhadap jurnalis yang terjadi di gudang milik PT Putraprima Mineral Mandiri (PMM) di Kabupaten Bangka, Sabtu (7/3/2026).

Korban dalam peristiwa tersebut adalah Frendy Primadana, kontributor TVOne Bangka Belitung. Saat kejadian, Frendy bersama dua rekannya yakni Dedy Wahyudi dari BERITAFAKTA.COM dan Wahyu Kurniawan dari SUARAPOS.COM tengah menjalankan tugas jurnalistik.

Sekretaris IJTI Pengda Babel, Haryanto, mengecam keras tindakan kekerasan yang diduga dilakukan oknum karyawan perusahaan dan sopir truk di lokasi tersebut.

“Kami mendesak pihak-pihak yang diduga terlibat melakukan pemukulan terhadap anggota kami, Frendy Primadana, untuk segera ditangkap. Kasus ini telah melampaui batas kewajaran, padahal wartawan dilindungi oleh Undang-undang Pers,” kata Haryanto.

Ia menilai terdapat sejumlah dugaan tindak pidana dalam kejadian tersebut, mulai dari penghalangan kerja jurnalistik hingga ancaman pembunuhan.

“Kami mencatat ada empat pelanggaran pidana yang dilakukan oknum perusahaan dan sopir di sana, yakni menghalangi kerja jurnalistik, penyekapan, pemukulan, dan ancaman pembunuhan. Semua unsurnya sudah jelas, kami minta polisi segera meringkus para pelaku,” ujarnya.

Menurutnya, tindakan menghalangi kerja jurnalistik telah diatur dalam Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, dengan ancaman pidana penjara paling lama dua tahun atau denda hingga Rp500 juta.

IJTI Babel juga menyatakan akan memberikan pendampingan hukum kepada para korban.

“Kami akan mem-back up Dana dan kawan-kawan. IJTI menyiapkan penasihat hukum agar ada keadilan. Tegas dari kami, sebagai organisasi tidak ada kata damai,” katanya.

Peristiwa itu bermula ketika Frendy bersama dua rekannya mendatangi gudang PT PMM di Jalan Lingkar Timur, Kabupaten Bangka, setelah menerima informasi mengenai keributan di sekitar lokasi yang diduga melibatkan anggota satgas.

Saat berada di lokasi, salah satu wartawan mencoba mengambil gambar truk yang hendak masuk ke area gudang. Sopir truk diduga tidak terima dan meminta gambar tersebut dihapus.

Meski permintaan itu dipenuhi, ketegangan tetap terjadi ketika truk tersebut kembali keluar dari area gudang dan wartawan kembali mengambil gambar. Sopir truk diduga turun dari kendaraan dan memukul Dedy Wahyudi di bagian wajah.

“Tunggu saja kamu di sini, saya panggil kawan-kawan saya,” ujar sopir truk tersebut seperti dituturkan Wahyu Kurniawan.

Situasi semakin memanas ketika dua wartawan mencoba meninggalkan lokasi menggunakan sepeda motor. Seorang satpam perusahaan diduga menarik baju Frendy dari belakang hingga membuatnya terjatuh dari kendaraan.

Wahyu berhasil keluar dari lokasi, namun Frendy dan Dedy sempat tertahan oleh pihak keamanan perusahaan di dalam area gudang.

“Aku berhasil lolos, tapi Frendy dan Dedy sempat ditahan oleh pihak keamanan perusahaan,” ungkap Wahyu.

Frendy Primadana mengaku dirinya sempat dipukul hingga mengalami luka di beberapa bagian tubuh.

“Saat saya sudah mau naik motor, tiba-tiba baju saya ditarik oleh satpam hingga saya terpental dan terguling di jalan. Baju saya robek dan saya dipukuli oleh sopir truk,” ujarnya.

Ia juga mengaku sempat ditendang hingga hidungnya berdarah ketika berada di halaman kantor perusahaan.

“Mereka minta kami membuat video klarifikasi. Kalau tidak, kami diancam akan dibunuh. Karena nyawa kami terancam, akhirnya kami membuat video itu,” katanya.

Akibat kejadian tersebut, Frendy mengalami luka pada bagian hidung, kepala, dada, serta beberapa bagian tubuh lainnya. Ia bersama rekannya telah melaporkan kejadian itu ke Polda Bangka Belitung.

Ketua Umum IJTI Pusat Herik Kurniawan turut mengecam keras tindakan kekerasan terhadap jurnalis tersebut.

“Jurnalis sedang menjalankan tugas untuk kepentingan publik. Kekerasan terhadap wartawan jelas bertentangan dengan undang-undang,” tegasnya.

Ia mendesak Kapolda Kepulauan Bangka Belitung untuk segera mengusut tuntas kasus tersebut dan memproses para pelaku sesuai hukum yang berlaku.

“Kami meminta Kapolda Babel segera mengusut kasus ini sampai tuntas. Siapa pun yang terbukti melakukan kekerasan harus diproses sesuai hukum,” ujarnya. (**)

Continue Reading

Trending