Connect with us

News

Banjir Lumpur Ancam Wolo, Warga Soroti Dampak Aktivitas Tambang PT CNI

Published

on

Sungai yang digunakan petani tambak di Babarina diduga tercemar

KENDARI24.COM – Curah hujan tinggi yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi Tenggara, memicu kekhawatiran akan potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan erosi.

Di Kabupaten Kolaka, kondisi tersebut dirasakan cukup serius, khususnya di wilayah Kecamatan Wolo, Samaturu, dan Iwoimenda. Intensitas hujan yang sulit diprediksi sejak April hingga Mei 2026 dinilai memperparah kerentanan wilayah, terutama di daerah dengan karakteristik tanah merah.

Di Kecamatan Wolo, fenomena air bercampur lumpur yang mengalir ke jalan, lahan pertanian, perkebunan, hingga tambak warga menjadi sorotan setelah viral di media sosial.

Warga menilai kondisi ini tidak semata dipicu faktor alam, tetapi juga berkaitan dengan aktivitas pertambangan di wilayah izin usaha pertambangan (IUP) PT Ceria Nugraha Indotama (CNI).

Menurut warga luapan air bercampur lumpur berasal dari area tambang, khususnya di wilayah Blok Lapaopao Pit Garuda dan MRP.

Air dari kawasan tambang mengalir melalui jalur sungai hingga masuk ke tambak dan lahan produktif warga, terutama saat sedimen pond tidak mampu menampung debit air hujan.

“Air bercampur lumpur turun dari wilayah tambang hingga ke tambak warga. Ini sudah tidak bisa terbendung lagi melihat kondisi di lapangan,” ujar Hamka Bahri.

Menurutnya, dampak paling parah dirasakan warga di Desa Muara Lapaopao (Babarina), khususnya di Dusun Iwoi Mengguro hingga wilayah Pombokoa dan Tambubungi yang menjadi area perikanan dan pertanian masyarakat.

Warga juga menyoroti keberadaan aktivitas tambang di sekitar fasilitas pendidikan, termasuk area yang berada di belakang SMA Negeri 1 Wolo, yang dinilai berpotensi meningkatkan risiko bencana di wilayah tersebut.

Pada 28–29 April 2026, pihak PT CNI diketahui telah turun langsung ke lapangan untuk melakukan monitoring, observasi, dan investigasi. Namun hingga kini, hasil asesmen kerugian yang dialami masyarakat belum diumumkan secara rinci.

Sejumlah warga yang terdampak mengaku masih menunggu kepastian terkait nilai kerugian, baik secara ekonomi maupun ekologi akibat masuknya lumpur ke tambak dan lahan mereka.

“Kami masih menunggu hasil pertemuan dari pihak manajemen perusahaan terkait rincian kerugian dan pembayaran kepada masyarakat,” ujar Ilham. Pemilik tambak yang terdampak.

Hamka Bahri, yang turun langsung ke lokasi untuk memantau dampak yang terjadi mempertanyakan lambannya penanganan serta minimnya keterlibatan pemerintah dan pemangku kepentingan dalam proses asesmen di lapangan.

“Seharusnya pemerintah dan stakeholder terkait hadir mendampingi masyarakat, bukan membiarkan warga menghadapi situasi ini sendiri,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Jayus Pratama yang menilai masyarakat seolah berjuang sendiri menghadapi dampak bencana.

“Ini sangat miris. Masyarakat terdampak justru tidak mendapatkan pendampingan maksimal,” katanya.

Warga Desa Muara Lapaopao berharap adanya langkah konkret dan cepat dari pemerintah maupun perusahaan untuk menangani dampak yang terjadi.

Mereka mendesak agar segera dilakukan pembayaran kerugian, pemulihan lingkungan pascabencana, serta langkah-langkah mitigasi agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Selain itu, warga juga mengusulkan pembentukan tim khusus penanganan bencana oleh perusahaan, pembangunan tambahan kolam pengendapan (settling pond), pengalihan aliran air, hingga program reklamasi dan reboisasi secara berkelanjutan.

Warga menegaskan, tanpa langkah serius dan sistematis, potensi bencana yang lebih besar di wilayah tersebut hanya tinggal menunggu waktu.

Hamka juga menantang pihak Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kolaka yang infonya telah mengambil sampel air yang bercampur lumpur segera dibuka ke publik dan transparan.

“Hasil laboratorium harus dibuka ke publik karena ini menyangkut dampak lingkungan dan mata pencaharian warga,” pungkas Hamka.

Hingga berita ini diterbitkan, PT CNI belum memberikan pernyataan dan data resmi kerugian akibat kondisi ini.(**)

Continue Reading

News

Terseret Arus Sungai, Seorang anak di Kendari Ditemukan Meninggal Dunia

Published

on

By

Ilustrasi

KENDARI24.COM – Seorang anak ditemukan meninggal dunia usai diduga terseret arus kali di Kelurahan Punggoloba, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari, Minggu (10/5/2026).

Korban ditemukan di sekitar kawasan asrama dayung setelah sebelumnya dilaporkan hilang dan diduga tenggelam di aliran sungai setempat.

Peristiwa tersebut diketahui dari video yang beredar di media sosial. Dalam rekaman itu, perekam video menyebut korban ditemukan di area muara kali Punggoloba.

Korban ditemukan dalam kondisi tertelungkup, dengan menggunakan baju berwarna biru tanpa celana.

Diduga korban bermain di sungai saat hujan melanda wilayah kota Kendari sehingga kondisi air meluap dan menghanyutkan korban.

“Sapa tau ada yang kehilangan, ditemukan anak-anak di asrama dayung (muara kali Punggoloba),” ujar perekam video.

Sementara itu, Kepala BPBD Kota Kendari, Cornelius Padang, membenarkan adanya penemuan korban dalam kondisi meninggal dunia.

Ia menjelaskan, berdasarkan informasi awal, korban diduga terseret arus saat mandi di sungai.

“Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan diduga mandi di sungai kemudian terseret arus,” ujarnya.

Hingga berita ini diterbitkan, identitas lengkap korban maupun kronologi pasti kejadian tersebut masih belum diketahui. Aparat dan pihak terkait masih melakukan pendataan lebih lanjut.(**)

Continue Reading

News

Banjir Rendam Kendari, Brimob Dikerahkan Evakuasi Warga

Published

on

By

KENDARI24.COM – Puluhan personel Sat Brimob Polda Sulawesi Tenggara dikerahkan untuk membantu proses evakuasi warga terdampak banjir di sejumlah wilayah Kota Kendari, Minggu (10/5/2026).

Personel Brimob disiagakan di beberapa titik banjir guna membantu warga yang rumahnya terendam dan terjebak akibat tingginya debit air setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur Kota Kendari.

Komandan Detasemen Gegana Sat Brimob Polda Sultra, Kompol Asri Diyni, mengatakan pihaknya menurunkan personel lengkap dengan perlengkapan keselamatan untuk mempercepat proses evakuasi masyarakat terdampak.

“Beberapa titik banjir yang cukup parah kami lakukan evakuasi menggunakan perahu karet, salah satunya di Lorong Kampus Avicena,” ujarnya.

Selain mengevakuasi warga, personel Brimob juga membantu menyelamatkan barang-barang berharga milik masyarakat serta memastikan situasi di lokasi tetap aman selama proses penanganan berlangsung.

Menurutnya, seluruh personel bersama peralatan keselamatan masih disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan bertambahnya wilayah terdampak maupun adanya permintaan bantuan darurat dari masyarakat.

“Kami terus bersiaga dan bergerak cepat membantu warga terdampak banjir. Masyarakat yang membutuhkan bantuan darurat dapat segera menghubungi petugas,” tambahnya.

Hingga saat ini, aparat kepolisian bersama instansi terkait masih melakukan pemantauan dan penanganan di sejumlah lokasi banjir di Kota Kendari guna memastikan keselamatan warga serta kelancaran proses evakuasi.(**)

Continue Reading

News

Banjir Rendam Kendari, Basarnas Kerahkan 33 Personel Rescue

Published

on

By

KENDARI24.COM – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kota Kendari menyebabkan banjir di sejumlah titik pada Minggu (10/5/2026). Kondisi tersebut membuat Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kendari menurunkan tim rescue untuk melakukan evakuasi dan bantuan SAR kepada warga terdampak.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Kendari, Amiruddin A.S, menjelaskan laporan awal diterima sekitar pukul 10.50 Wita dari komandan regu (danru) tim rescue yang tengah melaksanakan siaga mobile.

Laporan tersebut menyebutkan telah terjadi banjir di beberapa wilayah Kota Kendari dan membutuhkan bantuan evakuasi.

“Pada pukul 10.50 Wita terima laporan dari danru tim rescue yang melaksanakan siaga mobile yang melaporkan bencana banjir di beberapa titik di wilayah Kota Kendari dan membutuhkan bantuan SAR,” ujarnya.

Menindaklanjuti laporan itu, Basarnas Kendari langsung mengerahkan tiga tim rescue menuju lokasi terdampak.

“Berdasarkan informasi tersebut, pada pukul 11.05 Wita tiga Tim Rescue terdiri dari 33 personel diberangkatkan menuju LKP untuk memberikan bantuan SAR,” jelas Amiruddin.

Saat proses evakuasi berlangsung, kondisi cuaca di Kota Kendari masih diguyur hujan. Selain itu, kondisi air laut yang sedang pasang turut memperparah genangan di sejumlah kawasan.

Basarnas memperkirakan air pasang akan mulai surut sekitar pukul 21.00 Wita.

Hingga saat ini, Basarnas Kendari masih melakukan proses evakuasi warga serta pendataan korban terdampak banjir.

Sejumlah wilayah yang terdampak dilaporkan tersebar hampir di seluruh kecamatan di Kota Kendari.

“Basarnas Kendari saat ini masih melakukan evakuasi dan mendata korban. Sejumlah wilayah terdampak hampir semua kecamatan di Kota Kendari,” pungkasnya. (**)

Continue Reading

Trending