Connect with us

Hukum & Kriminal

Sindikat Pencuri Rumah Kosong di Kendari Dibekuk, Polisi Amankan Sejumlah Barang Bukti

Published

on

KENDARI24.COM — Tim Buser 77, Satuan Reserse Kriminal Polresta Kendari melalui bersama Unit Satintelkam berhasil mengungkap kasus pencurian dengan pemberatan yang terjadi di sejumlah rumah kosong di wilayah Kota Kendari, Konawe Selatan, dan Konawe.

Sebanyak empat pelaku berinisial FA (32), SA (22), AR (35), dan AN (40) berhasil diamankan pada Sabtu (4/4/2026) dini hari sekitar pukul 04.45 Wita di lokasi berbeda di Kota Kendari.

Kasat Reskrim Polresta Kendari, AKP Welliwanto Malau, mengungkapkan bahwa para pelaku diduga terlibat dalam aksi pencurian di 10 tempat kejadian perkara (TKP).

“Para pelaku ini mengaku telah melakukan pencurian rumah kosong di sekitar 10 TKP di wilayah Kendari, Konawe Selatan, dan Konawe,” ujarnya.

Kasus ini terungkap berdasarkan laporan salah satu korban, seorang dosen yang rumahnya berada di BTN Anoa Green Wisata, Kecamatan Konda, Konawe Selatan. Saat itu, korban meninggalkan rumah dalam keadaan terkunci untuk pulang kampung.

Namun, saat kembali, korban mendapati kondisi rumah telah dibobol dan sejumlah barang berharga hilang. Dari rekaman CCTV, terlihat dua pelaku masuk ke halaman rumah dan mematikan aliran listrik sebelum melakukan aksinya.

AKP Welliwanto menjelaskan, pelaku menjalankan aksinya dengan menyasar rumah yang ditinggal pemiliknya. Mereka masuk dengan cara mencongkel jendela, kemudian menggeledah isi rumah dan mengambil barang-barang berharga.

“Modusnya pelaku masuk ke rumah kosong dengan cara mencongkel jendela, lalu mengambil barang-barang di dalam rumah. Barang hasil curian kemudian diangkut menggunakan mobil sewaan,” jelasnya.

Dalam menjalankan aksinya, dua pelaku utama, FA dan SA, berperan sebagai eksekutor. Sementara AN dan AR membantu menjemput serta mengangkut barang hasil curian menggunakan mobil rental.

Dari hasil interogasi, diketahui sebagian barang hasil curian dijual oleh pelaku, termasuk dua unit genset yang dijual seharga Rp4 juta. Uang hasil penjualan digunakan untuk membayar sewa mobil dan dibagi di antara para pelaku. Bahkan, sebagian uang juga digunakan untuk membeli narkoba jenis sabu.

Polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya drone, kamera DSLR, laptop, serta berbagai barang elektronik lainnya yang diduga hasil pencurian.

Saat ini, keempat pelaku telah diamankan di Polresta Kendari untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Polisi juga masih melakukan pengembangan guna mengungkap kemungkinan adanya TKP lain serta jaringan pelaku. (**)

Continue Reading

Hukum & Kriminal

Polresta Kendari Selidiki Pencurian Onderil Mobil di Rumah Kosong

Published

on

By

Ipda Daniel Simangunsong, Kanit Pidum Polresta Kendari mengecek TKP

KENDARI24.COM — Rekaman video yang memperlihatkan sejumlah mobil terparkir di sebuah rumah di Jalan Mekar, Kelurahan Kadia, Kota Kendari, mendadak ramai diperbincangkan di media sosial. Di balik video itu, tersimpan cerita kehilangan yang cukup mengejutkan.

Sejumlah onderil dari empat unit mobil dilaporkan hilang setelah diduga dicuri oleh pelaku yang jumlahnya lebih dari satu orang. Peristiwa ini terjadi saat rumah tersebut dalam kondisi kosong karena penyewanya tidak berada di lokasi.

Menindaklanjuti laporan yang beredar, Satuan Reserse Kriminal Polresta Kendari langsung turun ke tempat kejadian perkara untuk melakukan penyelidikan awal. Polisi melakukan pengecekan dan mengumpulkan keterangan guna mengungkap pelaku di balik aksi tersebut.

Kanit Pidana Umum Satreskrim Polresta Kendari, IPDA Daniel Simangunsong, menjelaskan bahwa rumah tersebut merupakan milik seorang mantan anggota polisi yang disewakan kepada pihak lain untuk dijadikan bengkel.

“Kita melakukan pengecekan TKP dugaan tindak pidana pencurian atau pembobolan. Kehilangannya berupa peretelan mobil, jadi banyak onderil yang diambil oleh pelaku,” ujarnya.

Dari hasil olah TKP sementara, polisi menduga pelaku berjumlah lebih dari satu orang. Bahkan, pelaku disebut sempat membalik posisi mobil untuk mempermudah mengambil bagian-bagian kendaraan.

“Dari TKP kami melihat pelakunya lebih dari satu orang. Jadi pemilik rumah ini mengontrakkan ke seseorang untuk membuka bengkel,” tambahnya.

Saat ini, penanganan kasus tersebut juga telah dilaporkan ke Polda Sulawesi Tenggara. Meski demikian, Polresta Kendari menyatakan siap membantu proses penyelidikan jika ditemukan perkembangan baru.

“Sejauh ini sudah ada penanganan dilakukan oleh Polda, tetapi apabila ada perkembangan kami siap membantu,” jelas Daniel.

Hingga kini, polisi masih terus mendalami kasus tersebut dengan mengumpulkan bukti dan keterangan saksi. Warga pun diimbau untuk lebih waspada, terutama terhadap lokasi yang ditinggal dalam keadaan kosong, guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.

Continue Reading

Hukum & Kriminal

Polda Sultra Dalami Dugaan Korupsi KONI, Belasan Pengurus Diperiksa

Published

on

By

Subdit III Ditreskrimsus Polda Sultra

KENDARI24.COM – Sejumlah pengurus cabang olahraga (cabor) di bawah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sulawesi Tenggara menjalani pemeriksaan di Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sultra, terkait dugaan tindak pidana korupsi anggaran KONI tahun 2023–2024.

Kasubdit III Tipikor Ditreskrimsus Polda Sultra, AKBP Niko Darutama, mengatakan pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari proses klarifikasi penggunaan anggaran KONI Sultra yang nilainya mencapai sekitar Rp11 miliar.

“Yang dipanggil untuk klarifikasi sekitar belasan pengurus cabor. Pemeriksaan ini terkait penggunaan anggaran KONI Sultra tahun 2023–2024,” ujar Nico, Senin (30/3/2026).

Ia menjelaskan, proses pemeriksaan masih dalam tahap pendalaman untuk mengetahui peruntukan anggaran yang telah digunakan.

“Ini masih pemeriksaan lanjutan. Sebelumnya, ketua KONI, bendahara, dan sekretaris juga sudah dimintai keterangan. Tahapan ini untuk mengklarifikasi bagaimana anggaran tersebut digunakan,” jelasnya.

Menurut Nico, hingga saat ini penyidik masih menunggu hasil audit dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk memastikan ada atau tidaknya kerugian negara dalam kasus tersebut.

“Anggaran yang diperiksa sekitar Rp11 miliar, namun untuk dugaan kerugian negara masih menunggu hasil audit,” tegasnya.

Ia menambahkan, pemeriksaan terhadap pengurus cabor dilakukan secara bertahap, termasuk pemanggilan sejumlah ketua cabang olahraga yang terkait dengan penggunaan anggaran tersebut.

“Total yang diperiksa sudah belasan orang dan akan terus bertambah sesuai kebutuhan penyidikan,” tambahnya.

Polda Sultra menegaskan akan terus menindaklanjuti laporan tersebut hingga proses hukum berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.(**)

Continue Reading

Hukum & Kriminal

ART Aniaya Bayi 11 Bulan, Satreskrim Polresta Kendari Bekuk Pelaku

Published

on

By

Ilustrasi kekerasan pada anak

KENDARI24.COM — Satuan Reserse Kriminal Polresta Kendari melalui Tim Buser 77 bersama Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) akhirnya mengungkap kasus dugaan tindak pidana kekerasan terhadap anak di Kota Kendari.

Kasus tersebut melibatkan seorang bayi perempuan berusia 11 bulan sebagai korban. Terduga pelaku berinisial NS (45), yang merupakan asisten rumah tangga asal Kolaka Timur, ditangkap setelah orang tua korban menemukan rekaman kamera pengawas (CCTV).

Dalam rekaman tersebut, pelaku diduga melakukan kekerasan dengan membanting korban di atas kasur saat bayi menangis dan sulit ditenangkan. Peristiwa itu terjadi pada 4 Maret 2026 di sebuah rumah di Kelurahan Kambu.

Akibat kejadian tersebut, korban mengalami sejumlah luka, di antaranya memar di bagian kepala, dahi, pipi kanan, leher belakang, serta lengan bawah. Korban juga mengalami luka lecet di bagian telinga yang diduga akibat benturan.

Kasat Reskrim Polresta Kendari, AKP Williwanto Malau, membenarkan pengungkapan kasus tersebut dan menyatakan pelaku telah diamankan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

“Pelaku sudah kami amankan setelah adanya laporan dari orang tua korban yang menemukan rekaman CCTV. Saat ini yang bersangkutan sedang menjalani pemeriksaan,” ujarnya. Selasa (17/3/2026).

Dari hasil pemeriksaan awal, pelaku mengakui perbuatannya. Ia mengaku melakukan tindakan tersebut karena emosi dan kelelahan saat merawat korban yang dalam kondisi sakit dan terus menangis.

“Pelaku mengaku kesal karena korban terus menangis sehingga melakukan kekerasan. Namun, hal tersebut tidak dapat dibenarkan dan tetap kami proses sesuai hukum yang berlaku,” tambahnya.

Saat ini, penyidik masih mendalami kasus tersebut, termasuk kemungkinan adanya unsur tindak pidana lain serta melengkapi berkas perkara untuk proses hukum selanjutnya.(**)

Continue Reading

Trending