Opini
Rasmin Jaya Alumni Fisip UHO Terbitkan Karya Berjudul Transformasi dan Wacana di Era Distrupsi
Published
17 jam agoon
By
Redaksi
KENDARI24.COM – Mahasiswa asal Muna Barat yang sementara menempuh pendidikan di Pasca Sarjana UHO terbitkan buku dengan judul “Transformasi dan Wacana di Era Distrupsi”.
Proses penulisan karya ini tidak mudah, butuh nutrisi bacaan banyak, melihat proses fenomena dan dinamika yang tajam, diperlukan konsistensi, keseriusan, kesabaran untuk merangkai kata dan bongkar pasang penyesuaian sampai menemukan bentuk yang utuh.
Ia menyadari proses literasi dan pembacaan fenomena sosial berperan sebagai nutrisi bagi otak. Seperti halnya tubuh yang membutuhkan gizi untuk tetap sehat, otak membutuhkan asupan pengetahuan agar tetap tajam.
Mengurangi aktivitas literasi sama saja dengan mengurangi gizi otak, yang pada akhirnya berisiko menimbulkan “kelumpuhan” berupa ketidakmampuan dalam memahami.
Dialah, Rasmin Jaya sosok yang yang selalu pro aktif pada berbagai fenomena sosial, organisasi dan kebijakan pemerintah. Ia dengan berani menyikap berbagai tabir yang kurang terkuak di publik.
Dengan jiwa muda, idealisme dan semangat aktivis ia banyak bergelut dalam proses pergerakan besar yang ada di Sulawesi Tenggara khususnya Kota Kendari, mengawal kasus dan mengadvokasi mahasiswa, masyarakat yang selama ini tidak mendapatkan haknya.
Dengan komitmen, cinta, dan harapan, serta semangat berkarya, mencipta, dan memimpin, buku yang di tulis oleh penulisnya tak seperti bunyi halilintar, tetapi seperti rintik rinai hujan yang membawa kesejukan dan kehidupan untuk alam semesta serta seperti cahaya yang menemani dan mengarungi di tengah kegelapan.
Ialah Rasmin Jaya, salah satu alumni Sosiologi, Fisip UHO yang sekarang ini sedang menempuh pendidikan di Pasca Sarjana UHO. Di tengah kesibukan akademik, organisasi dan aksi-aksi pergerakan, ia juga sangat aktif menulis meluncurkan berbagai wacana artikel di media sosial khususnya publik di Sulawesi Tenggara.
Sebagai aktivis pergerakan di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kendari ia tetap mengedepankan rasa tanggung jawab dan fungsinya sebagai pemuda. Komitmen pada ideologi, peranannya di organisasi serta tanggung jawabnya kepada sejarah tetap melekat kepada dirinya, sebab ia pikir itu adalah panggilan moral dan sosial untuk berbuat lebih banyak kepada masyarakat.
Ia bercerita, pasca berjuang di atas podium jalanan, bersuara di setiap forum, dan bergerak melalui jalur organisasi maupun akademik, penulis mencoba menghiasi percakapan publik di berbagai platform media.
Kali ini, penulis bergerak dalam
Kesunyian, jauh dari hiruk-pikuk sorotan.
Di tengah kebisuan alam, penulis mencoba mendobrak kebekuan, melahirkan ata demi kegelisahannya untuk selalu melakukan yang positif, pikirannya menyala nyala, nada bicaranya meledak. Dibawah lentera merah, lampu menyala sayup sayup. Ia berjuang dengan pena layaknya.
Saat yang lain terlelap tidur, ia meracik kata demi kata sehingga menjadi sebuah tulisan, merangkai narasi dengan penuh harap untuk kebijakan hari esok tanpa sorotan, di tengah keheningan dan kebisuan malam ia kembali hadir sebagai catatan pinggir adalah oase dan etalase atas percikan pemikiran dan gagasannya.
Tulisannya tak seperti bunyi halilintar tapi semoga mampu menyihir pembaca, menjadi cahaya dalam menuntun perjalanan generasi dengan segala zamannya.
Sosok Yang Sederhana dan Terbuka
Ialah dia sesosok pemuda, Rasmin Jaya. Lahir di pelosok, Desa Maperaha, Muna Barat. Jauh dari hiruk pikuk Kota dan ingar bingarnya tapi semangatnya, mimpinya, cita-cita dan harapannya besar bagaimana merubah wajah daerahnya, melihat masyarakat yang ia perjuangkan selama ini sejahtera dan bisa mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara.
Ia merintis di atas jalan terjal perjuangan, di tengah keterbatasan tak membuatnya ia surut, pesimis ataupun menyerah. Selama ini, di atas podium ia cukup banyak berteriak lantang, menuntut ketidakadilan, bersuara di forum-forum besar, menuntut pertanggungjawaban pemerintah atas amanah rakyat, dan menghiasi percakapan publik dengan untaian-untaian kata dari setiap narasi yang ia bangun, hadir dari denyut nadi rakyat.
Tapi, kali ini ia menciptakan sebuah karya yang lebih panjang dari pada tarikan nafas. Mendobrak kebekuan generasi, memantik semangat nilai-nilai perjuangan ia melahirkan suatu karya berjudul Transformasi dan Wacana di Era Distrupsi.
Ia menulis pokok-pokok pikiran , problematika yang itu juga sangat bersentuhan dengan aktivitas kesehariannya. Dalam akademik, dinamika organisasi serta berbagai sirkulasi wacana yang terpotret atas kebijakan pemerintah.
Ia merekam keresahan, harapan, keyakinan dan proses jalan panjang perjuangan serta pengorbanan. Sehingga menulis buku adalah cara paling sunyi untuk menjadi abadi.
Setiap denyut nadi tulisan yang hidup, setiap narasi yang terbentang itu bukan hanya sekadar tulisan tetapi bibit sebuah karya, tapi di sisi lain ia membutuhkan keberanian, ada proses panjang, ada kesiapan untuk di baca, di lihat dan di nilai.
Proses Kreatif Penulis
Di era distrupsi, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat, mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, terutama budaya literasi menulis. Kemajuan ini menghadirkan tantangan baru bagi mahasiswa.
Jika tidak diimbangi dengan proses menulis dan literasi yang baik, teknologi justru dapat membawa dampak negatif, seperti penyebaran hoaks, bullying, dan isu sara yang mengemuka di ruang publik. Perkembangan teknologi ini perlu filterisasi dengan bijak agar dampak negatifnya dapat diminimalisir.
Namun di sisi lain, kemajuan ini menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas percakapan publik melalui pengetahuan dan informasi. Budaya menulis akan terus berkembang seiring upaya kecil yang dilakukan secara konsisten dan terus tekun untuk membentuk karakter bangsa yang kuat dan beradab.
Dari tradisi literasi membaca, diskusi, menulis dan aksi menjadikan kita semakin produktif dan tetap terus berkembang. Kalau kita ingin mengetahui dunia maka membacalah dan kalau ingin terkenal maka menulislah.
Pekerjaan menulis bukan hanya sekedar urusan keterkenalan atau popularitas, jauh dari itu menulis sejatinya mengartikulasikan ide, pikiran dan gagasan yang bisa di baca bahkan bisa mempengaruhi public. Menulis itu bisa otodidak.
Ia proses mencoba, syaratnya perlu membaca dan punya gagasan. Penulis itu mereka yang membaca, bersentuhan langsung dengan dinamika, fenomena dan terpicu untuk menuliskannya.
Menulis di media massa bisa dilakukan siapa saja, dan menulis itu 99 persen gagasan dan 1 persen teknis. Proses menulis bisa menghilangkan stres dan kepengapan atas banyaknya pikiran yang tertahan di otak. Maka perlu untuk di tuliskannya.
Kebiasaan kita menulis, membuat kita terus belajar dan aktual. Penulis itu manusia pembelajar yang selalu penasaran dan mengetahui berbagai hal serta harus menggali ide-ide dan menuliskannya. Bacaan dan fenomena apapun, adalah instrumen pembelajaran. Penulis perlu gagasan, tanpa itu tidak ada yang di tulis.
Tanpa sikap yang terbuka dan menyerap banyak hal, tidak akan ada gagasan yang istimewa. Penulis seyogyanya inklusif. Bagi penulis, publikasi sangat perlu karena bisa mendistribusikan ide dan gagasan di publik serta bisa mendapatkan respon balik dari pembaca.
Media massa adalah panggungnya. Proses menulis dan pembacaan fenomena sosial berperan sebagai nutrisi bagi otak. Seperti halnya tubuh yang membutuhkan gizi untuk tetap sehat, otak butuh asupan pengetahuan agar tetap tajam. Di tengah kondisi bangsa yang sarat tantangan, budaya menulis sangatlah enting. Sebagai mahasiswa, kita memiliki tanggung jawab untuk terus belajar.
Buku ini berjudul, Transformasi dan Wacana di Era Distrupsi
Buku ini lahir atas keresahan pikiran penulis dengan melihat berbagai dinamika pergolakan wacana di semua sektor juga sekaligus menjawab kebuntuan saluran demokrasi dalam menyampaikan pikiran, gagasan, ide serta pandangan di ruang publik.
Buku tersebut lahir dari pergumulan atas aktivitas keseharian dan menyentuh berbagai pokok persoalan fundamental dan substansial. Tulisan apa adanya, tidak terlalu ilmiah sehingga berbagai lapisan masyarakat bisa membaca, membuka mata, hati dan pikiran tentang apa yang sedang di alami daerah dan bangsa ini. Bukan hanya tentang politik, pendidikan, sosial, mahasiswa, demokrasi, pemilu, tetapi juga berbagai wacana lain yang di tuangkan dalam satu tarikan dalam nafas buku ini.
Pikiran, ide dan gagasan akan terus lahir dari segala zaman dan generasinya, tentang harapan dan prospek ke depan agar bisa menjadi arah pembangunan dan kesejahteraan masyarakat serta bisa di baca langsung oleh para pemangku kepentingan dalam memutuskan kebijakan.
Konsistensi Menulis
Buku “Transformasi dan Wacana di Era Disrupsi” ini dapat penulis rampungkan di sela kesibukan mengurus organisasi, pengawalan isu-isu kebijakan pemerintah dan studi sebagai mahasiswa.
Sebab ia memandang di tengah kondisi bangsa yang sarat tantangan, budaya menulis menjadi sangat krusial. Sebagai mahasiswa, kita emiliki tanggung jawab untuk terus belajar.
Buku adalah laboratorium dan jendela dunia yang telah membuktikan diri sebagai pilar kemajuan peradaban. Mahasiswa perlu memupuk budaya membaca dan menulis yang kuat dengan mengedepankan pikiran kritis, progresif, dan kreatif. Jika mahasiswa mengalami degradasi budaya menulis, masa depan bangsa akan terancam, sebab mahasiswa adalah calon pemimpin masa depan.
Bagi seorang penulis, sangat sukar menakar esensi irinya. Penulis tidak akan benar-benar “mati” meski raga telah dikuburkan, karena imajinasi pembaca akan selalu menghidupkannya.
Penulis, yang sebelumnya terlibat aktif dalam pergerakan mahasiswa, pers mahasiswa, advokasi kasus, hingga memimpin berbagai lembaga, telah menghasilkan berbagai artikel di media massa lokal maupun nasional. Melalui buku ini, penulis mencoba menyingkap tabir fenomena osial-politik yang kian kabur dari esensinya.
Sepenggal Pesan Dari Penulis
Bahwa balas dendam terbaik adalah bagaimana kita terus memperbaiki diri dari hari kehari, dari waktu kewaktu, bukan hanya karena suramnya masa lalu tetapi bagaimana kita lebih memantaskan diri untuk orang yang kita cintai dan untuk rakyat yang selalu kita perjuangkan dalam setiap diskusi, di temani kopi dan rokok dalam larutnya malam di tengah keterbatasan.
Karena aku dan kita semua yang sempat membaca sepenggal pesan tersirat dan tersurat ini, kita tidak boleh seperti ini terus. Generasi kita harus bangkit, maju dan berpikir melampaui generasi dan zamannya.
Mimpi dan cita-cita yang harus terus di rawat dan di perjuangkan. Tidak sepatutnya kita apatis dan merasa bodoh. Ini tentang regenerasi, kepemimpinan, dan masa depan sebab ada tugas ideologi, organisasi dan sejarah yang kita pikul.
Kita sedang merintis di atas jalan terjal perjuangan, untuk terus mengumpulkan secercah percikan api agar menjadi kekuatan dan Cahaya yang selalu mengiringi perjalanan kita.
Tentang harapan yang kita perjuangkan mungkin tak selalu apa yang kita harapkan tapi semoga itu menjadi Pelajaran dan pengalaman dari hikmah itu sendiri. Kenyataanya tak ada orang yang berkembang dan maju tanpa melalui proses, mereka membentuk dirinya dengan melalui pengalaman, kesulitan dan pilihan hidup yang pahit.
Semakin keras prosesnya maka akan semakin maksimal hasilnya. Sebuah permata tidak akan bisa di poles tanpa gesekan. Karena kunci keberhasilan adalah ketekunan, komitmen, ikhtiar, berusaha dan berdoa. Karena setiap capaian besar butuh waktu lama dan proses yang cukup, mimpi tidak di beli tetapi harus di perjuangkan, di usahakan mengorbankan segala hal dengan air mata.
Terima kasih kalian semua sudah kuat hingga sejauh ini, kamu hebat menjadi dirimu sendiri. Hari, bulan dan tahun yang akan datang ada cobaan kita cobain, ada nikmat kita nikmati.
Profil Penulis
Rasmin Jaya lahir pada 9 Oktober 1998 di Desa Maperaha, Muna Barat
Sulawesi Tenggara. Dalam perjalanan Pendidikan SD ia habiskan waktunya untuk
sekolah di SD N 3 Sawerigadi Muna Barat, SMP N 2 Kusambi, dan SMA N 2 Kusambi.
Selain sekolah ia juga salah satu anak yang menjadi penopang hidup keluarga, biasanya sebelum ke sekolah setiap pagi ia harus menyusuri jalan yang masih berembun untuk berjualan roti dan setelah pulang sekolah di sore harinya juga ia harus tetap melakukan aktivitas yang sama yakni membantu orang tua berjualan roti. Ia lakukan itu sampai sekolah di SMA kelas 2. Baginya, ada kebahagiaan dan kesenangan tersendiri pada saat melakukan aktivitas tersebut.
Apa lagi ia juga tak bisa tinggal diam Ketika orang tuanya setiap malam membuat roti, ia juga turut mengambil bagian dan sampai saat ini pengalaman membuat roti sampai terbawa bawa bahkan pada saat kuliah ia tetap membuat dan menjual roti meskipun secara online.
Dalam proses perjalanan bermahasiswa ia adalah aktivis Gerakan dan memimpin beberapa organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan yang berperan aktif dalam menyoroti kemajuan sosial dan pembangunan di Sulawesi Tenggara, khususnya di Muna Barat.
Ia menempuh pendidikan di Universitas Haluoleo, Sulawesi Tenggara, dan pernah menjabat sebagai Demisioner Ketua Kesatuan Pemuda Mahasiswa Maperaha Muna Barat serta pengurus BEM UHO periode 2019-2020. Menjadi Ketua DPK GMNI FISIP UHO periode 2020-2021, dalam proses bermahasiswa ia aktif memperjuangkan aspirasi mahasiswa terkait biaya pendidikan dan kebijakan kampus serta di organisasi ekternal ia di amanahkan memimpin Ketua DPC GMNI Kota Kendari periode 2023-2025.
Merdeka, panjang umur perjuangan.
You may like
Opini
Jalan Terjal Perjuangan dan Pengabdian, Menyongsong 1 Dekade GMNI Kendari
Published
4 minggu agoon
Maret 7, 2026By
Redaksi
KENDARI24.COM – GMNI Kendari bersiap menggelar hajatan besar. Sebuah momentum ideologis, meneguhkan kembali khitah perjuangan GMNI Kendari tanpa tercerabut dari kultur ideologisnya dan geografisnya.
Ulasan ini hanya sekedar refleksi, untuk kader dalam menyongsong semangat dan harapan baru ke depan. Tak akan cukup hanya sekadar kata ini untuk menggambarkam jalan panjang perjuangan yang penuh lika liku, sebab di sana bicara perjuangan, pengabdian, semangat, impian ke depan.
Temu Marhaenis, 1 Dekade GMNI Kendari dengan tema : “Arah Ideologi, Konsolidasi Kader, dan Transformasi Perjuangan Marhaenis dari Masa ke Masa”
Hajatan tersebut akan di gelar tanggal 8 Maret 2026, di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara menjadi sebuah moment spesial, strategis, dan istimewa bagi kader yang juga meneguhkan kembali semangat historis tentang akar terbentuknya GMNI Kendari.
Kita tau, kita sedang menapaki jalan panjang perjuangan. Sebab aku dan kita semua yang sempat membaca sepenggal tulisan tersirat dan tersurat ini, kita seorang marhaenis tidak boleh begini terus.
Generasi kita harus bangkit, maju, dan mencapai mimpi-mimpi kita. Cita-cita harus terus dirawat dan diperjuangkan. Tidak sepatutnya kita apatis dan merasa bodoh. Ini tentang regenerasi, kepemimpinan, dan masa depan, sebab ada tugas dan tanggung jawab moral, ideologi, organisasi, dan sejarah yang kita pikul.
Penulis bicara tegas dah apa adanya, sebuah dorongan untuk menegaskan kembali arah serta khitah perjuangan. meneguhkan arah gerakan dan gagasan tentang prospek di masa depan.
*Optimisme Ke Depan*
Gerakan mahasiswa tak boleh hanya menjadi ruang diskusi yang hampa tanpa tindakan, tapi harus kembali pada napas perjuangan kerakyatan yang menjadi jantung GMNI sejak kelahirannya.
Tapi juga harus tetap relevansi dengan detak jantung modernisasi yang serba tak pasti. Proses ideologisasi, doktrin perjuangan, penguatan kepemimpinan yang progresif dan tetap kritis terhadap situasi menjadi refleksi yang juga catatan kritis untuk tetap bergerak.
Apalagi forum tersebut dirancang bukan sebagai acara seremonial, melainkan ruang tukar gagasan. Momentum ini tidak boleh dianggap sekadar seremonial, penggugur tanggung jawab yang terlewat begitu saja, tetapi harus benar-benar terpatri dalam jiwa setiap insan Marhaenis.
Pasalnya, sudah terlalu lama kita hidup dalam luka yang dibalutnya sendiri. Berjuang dengan pamrih, penuh konsistensi, dedikasi dan tanpa kenal lelah menjadi bentuk pengabdian nyata yang juga hadir atas rasa cinta. Marhaenis Kendari dalam lintasan generasi telah menorehkan fondasi kokoh yang juga tinta emas, bukan hanya untuk di kenang ataupun menjadi mitos, tetapi mesti menjadi inspirasi dan cahaya untuk generasi baru yang terap tegak lurus dengan prinsip perjuangan “Marhaenisme”.
Bagi kawan, di beberapa sela diskusi ia berujar, “kita ini sudah terlanjur cinta kepada GMNI, apapun yang terjadi kita merasa bertanggung jawab semua. Kondisi kita sekarang adalah konsekuensi dari pilihan kita di masa lalu, jadi harus siap bertempur dan berjuang dengan berbagai tantangan yang ada”.
GMNI Kendari telah melewati pasang surut, ada dinamika, gejolak, suka duka, pilihan sulit hingga apapun itu namanya tak pernah sedikitpun pasrah.
Suara-suara telah diteriakkan dan panji merah telah dikibarkan. Harapan melambung tinggi, berkali-kali persatuan di jahit dengan penuh lirih, kata demi kata ini adalah ungkapan hati yang penuh harap tentang kebaikan GMNI ke depan.
Saya yakin kader lain pun merasakan hal yang sama, sebab kita yang gandrung akan persatuan dan gotong royong pasti mengilhami hal tersebut.
Tetapi akan menjadi sebuah ironi jika organisasi yang lahir dari semangat nasionalisme dan cita-cita Marhaenisme yang mengajarkan persatuan, keberanian, dan kesetiaan kepada rakyat kecil justru kehilangan khitah perjuangan dalam refleksi perjalanan yang sudah sejauh ini.
Ini tak boleh terjadi, tergerus dalam arus perkembangan global apa lagi gimik kepentingan politik sesaat.
*Marhaenis di Simpang Kiri Jalan*
Marhaenis tetap harus berada di simpang kiri jalan, berteriak diatas podium dengan lantang, bersuara di forum dan terus menghiasi percakapan publik dengan gagasan, ide dan harapan tentang nasib baik rakyat kecil.
Di Kota Kendari terlihat barisan kader yang berjuang di jalanan tanpa legitimasi formal, namun bergerak melalui semangat keikhlasan untuk mengabdi kepada bangsa ini, membentuk jati diri kepemimpinan, mengasah kritis dan respon pada kebijakan pemerintah.
Forum ideologis harus terus menjadi kawah candradimuka membentuk karakter pemimpin bangsa, untuk mengisi ruang pengadilan di berbagai sektor strategis.
Sebuah pesan, organisasi mahasiswa kerap terjebak dalam “fragmentasi egosentris” yang kehilangan konteks praksisnya. Meskipun GMNI hari ini menghadapi hal serupa, kita tidak boleh tergiring dalam konflik kepentingan atau apapun itu dengah segala embel-embelnya dan tetek bengeknya.
Saya percaya setiap kader merindukan kejayaan dan kemenangan. Suatu masa di mana semua merasa bisa berdaya, tapi itu adalah proses yang semuanya sedang menuju di sana sebab tak ada yang instan. Semuanya harus di perjuangkan dan di usahakan dengan baik.
GMNI tetap menjadi ruang pembentukan gagasan, ide, dan pemikiran tajam untuk masa depan yang lebih baik. Sejak awal, GMNI bukan sekadar organisasi mahasiswa.
Ia adalah ruang ideologis yang lahir untuk berjuang dan menegakkan nasionalisme yang berjiwa sosial sebagaimana ajaran Bung Karno. Ideologi jangan hanya berhenti sebagai slogan, tetapi tindakan kongkret yang berdampak.
Marhaenisme harus tetap membumi sebagai wujud nyata perubahan melalui refleksi jujur tentang keberpihakan kepada kaum kecil, serta pergulatan intelektual yang menyalakan kesadaran akan akar kultural kita.
Sejarah gerakan mahasiswa mengingatkan bahwa ketika organisasi kehilangan kohesi ideologis, ia akan kehilangan daya kritis terhadap kekuasaan.
Gerakan yang semula lahir sebagai penantang akhirnya hanya menjadi pelengkap kekuasaan, bukan lagi kekuatan moral, melainkan sekadar alat reproduksi elite politik. GMNI tak boleh terjerumus dalam hal tersebut
Karena ketika idealisme digantikan oleh kalkulasi kekuasaan, organisasi kehilangan jiwanya. Kita tidak menginginkan GMNI diombang-ambingkan oleh kepentingan kekuasaan yang menindas. Ini adalah kritik dan otokritik yang mesti melahirkan sintesis baru dalam akumulasi segala dinamika yang ada.
Para kader tidak boleh sekadar mencari pengakuan, tetapi harus menjalankan amanat ideologi, tanggung jawab organisasi dan tuntutan sejarah.
Hal ini dimulai dari kesadaran moral bahwa GMNI bukan milik segelintir pihak melainkan milik seluruh kader yang masih percaya bahwa api Nasionalisme masih menjadi benang yang bisa merajut perbedaan dan Marhaenisme tetap menjadi asas perjuangan yang akan tetap relevant mengikuti arus perkembangan zaman.
*GMNI Menjadi Lokomotif dan Kawah Candradimuka*
GMNI tetap menjadi lokomotif, pelopor dan kawacandradimuka untuk setiap insan Marhaenis pejuang pemikir- pemikir perjuang.
Kita sedang merintis di atas jalan terjal perjuangan untuk terus mengumpulkan secercah percikan api agar menjadi kekuatan dan cahaya yang selalu mengiringi perjalanan kita. Tentang harapan yang kita perjuangkan, mungkin tak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan, tapi semoga itu menjadi pelajaran dan pengalaman dari setiap kejadian itu sendiri.
GMNI membutuhkan pemurnian nilai. Kita perlu menatap ulang akar Marhaenisme bukan sekadar sebagai doktrin politik, melainkan sebagai ajaran kemandirian, kebersamaan, dan pengabdian pada rakyat.
GMNI adalah nama yang penuh makna dan istimewa di relung hati para kadernya. Ia hidup sebagai lambang, seperti bendera yang masih berkibar sebagai detak jantung perjuangan. Seperti pekikan tangan kiri yang selalu menjadi simbol perlawanan dan seperti gelaran tetrikal dan suara puisi sebagai reaksi balik atas seme menanya kekuasaan.
Warna merahnya akan tetap menyala, dan darah ideologinya mengalir di setiap nadi untuk membangun komitmen, cinta, dan harapan dan semangat berkarya, mencipta dan memimpin.
*Transformasi Perjuangan Marhaenis dari Masa ke Masa*
Menyongsong hajatan besar ini, dalam refleksi tersimpan banyak harapan dan impian yang belum banyak terwujud. Tapi ia bergerak seperti gayun bersambut yang saling menghubungkan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Tanggung jawab Marhaenis sejati adalah terus bekerja dengan pikiran, hati, dan jiwa yang ikhlas, serta tak lupa bagaimana ia terus belajar untuk menyiapkan bekal di masa depan.
Ketika momentum, peluang, kesiapan bertemu dalam satu titik maka menjadi sesuatu yang tak bisa kita lewatkan.
Mari kita sambut moment besar ini dengan nuansa kekeluargaan, sebagai upaya bersama merawat ingatan, menolak lupa atas rasa cinta kepada GMNI dan Ibu pertiwi, cinta yang terus hidup di setiap diskusi malam hingga jelang subuh, ditemani secangkir kopi dan rokok meskipun di tengah keterbatasan.
Menyalakan harapan adalah tanda bahwa kita memiliki prospek masa depan. Sekali lagi, 1 Dekade GMNI Kendari bukanlah agenda euforia semata, melainkan momen mengambil hikmah dari perjalanan panjang perjuangan.
Terus mendorong kepemimpinan yang progresif dan revolusioner, mengisi pos-pos kritis di berbagai sektor dan melakukan gebrakan intelektual, terobosan program, dan sesuatu yang berdampak pada perubahan kongkret.
Orientasi dan tujuan GMNI Kendari harus terukur, jelas, tepat sasaran, dan berdampak nyata. Ujian independensi akan selalu ada. Godaan akan muncul seperti ombak yang menyeret kita pada pusaran kepentingan praktis.
Pelajaran berharga bagi kita adalah kecerdasan dalam membaca peta politik dan sosial, kemampuan menjaga stamina kader, serta kematangan dalam mengelola konflik kepentingan.
*GMNI Go To Kampus*
GMNI perlu menyegarkan kembali wawasan kemahasiswaan sebagai organisasi berbasis intelektual muda, di mana idealisme pemuda menjadi pilar penyangga jati diri bangsa.
Marilah kita tetap bersatu dan berjuang. Setiap insan Marhaenis, sebagai corong dan laboratorium kader, harus memaksimalkan sumber daya dan potensi yang ada dari setiap insan Marhaenis serta penguatan ideologi, mentalitas, dan kapasitas untuk berkompetisi di dalam kampus. Tantangan ke depan semakin besar.
Kita dituntut untuk selalu aktual, kritis, dan terus mengasah kemampuan sebagai Marhaenis sejati yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan dari masa ke masa sebab kita bicara kader dalam lintasan sejarah, perjuangan dan pengabdian yang tak pernah usai.
Di ujung tulisan, ia menutup dengan kalimat semangat ideologis, GMNI bukan milik sekelompok orang. Ia milik rakyat. Rakyat yang selalu ia perjuangankan,petani, nelayan, buruh, kaum miskin kota dan lainnya yang menjadi orientasi utama.
*Mengembalikan Khittah ke Jalan Perjuangan*
Selama rakyat masih tertindas, GMNI tak boleh diam. Ia harus menjadi lokomotif gerakan dan peka terhadap isu-isu strategis yang menyangkut persoalan rakyat. Sentral gerakannya mesti di bangun di kampus, sebab corong konsolidasi dan mobilisasi gerakan.
GMNI berada di titik krusial nan strategis. Jalan satu-satunya adalah kembali ke akarnya, jalan perjuangan rakyat, panggilan sejarah, dan tugas ideologi.
GMNI mampu menjawab arah zaman: membantu petani mempertahankan tanahnya, bersama buruh menuntut keadilan kerja di era fleksibilitas tenaga kerja, mendampingi mahasiswa miskin yang rentan dikeluarkan karena tunggakan UKT, mengadvokasi hak-hak masyarakat adat yang direpresi oleh kekuasaan oligarki dan kebijakan pembangunan eksploitatif.
GMNI bisa menjadi sentral gerakan untuk perubahan
ke depan, selain dari internalisasi perbaikan tatanan struktur dan transformasi agar gerak perbaikan organisasi lebih baik mesti juga menjadi pelopor, menyatukan elemen dan eksponen gerakan.
Ke depan, semua kader bisa terus memastikan kerja organisasi berjalan secara baik dan sistematis, mengawal kebijakan pemerintah, dan memperbaiki kualitas kaderisasi. Langkah demi langkah yang konkret, kita semakin percaya bahwa Marhaenis Kendari akan banyak yang mengisi ruang pengabdian di masa depan dan dengan itu menjadi pelopor, bukan penonton. Jadilah pelaku sejarah, jangan jadi penonton apalagi penikmat sejarah.
GMNI kini berusaha mentransformasi diri untuk tetap relevan dengan perjuangan kaum tertindas di era digital, dengan tetap memegang teguh ajaran Bung Karno.
Tercatat sudah 5 kali terjadinya transformasi regenerasi kepemimpinan dalam setiap periode kepengurusan dari tahun 2015-2026. Mulai dari Zulzaman sebagai peletak fondasi pertama, Abdul Wahab, Saswal Ukba, Rasmin Jaya dan Awaluddin sebagai ketua Cabang terpilih periode 2025-2027.
Selamat Dies Natalis GMNI Kendari, 1 Dekade perjalanan yang panjang, 2015-2026. Tetaplah menjadi Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang.
Saya adalah GMNI, kamu adalah GMNI, dan apa pun yang terjadi pada GMNI adalah tanggung jawab kita semua. Warisi apinya, jangan abunya.
GMNI Memanggil Pulang. Merdeka.
Penulia: Rasmin Jaya (Ketua DPC GMNI Kendari 2023-2025)
Opini
Membangun Pergolakan Pemikiran, Ketua GMNI Kendari Dorong Mahasiswa Berorganisasi
Published
7 bulan agoon
September 10, 2025By
Redaksi
Transformasi regenerasi kepemimpin dalam setiap lembaga kemahasiswaan selalu menjadi hal yang paling penting untuk mendorong kuatnya sumber daya manusia (SDM) yang semakin maju, sinergi dan berdaya saing serta menciptakan pergolakan pemikiran dan pergerakan seperti apa yang menjadi esensi, hakikat mahasiswa yang sesungguhnya.
Kuatnya kelembagaan karena kadernya yang solid yang memahami setiap posisi, peran daan tanggung jawab dalam menjalankan tupoksinya. Kepeloporan dan terobosan pemimpin muda mahasiswa sangat dibutuhkan guna menjawab tantangan zaman sekaligus mengakomodir secara menyeluruh kepentingan mahasiswa dan mulai menyasar isu-isu strategis dan krusial kekinian.
Setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya, begitulah bagi kebanyakan mahasiswa menyebutnya. Tetapi seiring perjalannya waktu tantantannya semakin dinamis dengan era keterbukaan di mana wacana, opini dan isu-isu semakin terbuka untuk menjadi perdebatan di ruang publik.
Sebagai pemimpin lembaga kemahasiswaan harus lebih jelih, aktual dan pro aktif menjemput aspirasi itu. Hadirnya pemimpin yang berkualitas dan punya kapasitas yang mumpuni harus mampu menjawab kecenderungan kepemimpinan sebelumnya dimana kebanyakan dari kita atau mahasiswa merasa antipati serta hilangnya kepercayaan terhadap kelembagaan itu sendiri sebab tak mampu menjawab persoalan atas keluhan mahasiswa misalnya terkait dengan mahalnya uang kuliah tunggal, fasilitas yang memadai dan lain sebagainya.
Membangun kepercayaan dan integritas diri dikalangan mahasiswa sangat penting. Dengan kekuatan brending dan sosial media menjadikan kita lebih luas berinteraksi dengan siapapun. Sehingga posisi dan legitimasi yang didukung oleh kekuatan mahasiswa akan lebih muda menggerakan seluruh intrumen dan memobilisasi ketika persoalan itu ada. kerja-kerja konsolidasi sangat di butuhkan mengingat sekarang hadirnya pemimpin baru di pemerintahan menjadikan tantangan tersendiri untuk gerakan mahasiswa.
Kampus Kawacandradimuka
Kampus merupakan ladang kepemimpinan masa depan yang sangat subur. Kuncup pemimpin itu bernama pemuda dan mahasiswa. Maka biarkanlah kuncup dan bibit itu mekar menjadi bunga dan pada saatnya menjadi buah yang bermanfaat dan berguna untuk semesta alam yang membutuhkan di segala lini sektor. Itulah saatnya ketika negeri ini panen raya para pemimpin yang akan memandu bangsa besar ini menuju kejayaannya sebagai guru peradaban, Itulah apa yang menjadi harapan dan cita -cita founding father kita dahulu.
Mahasiswa harus selalu menjadi jembatan nurani dan aspirasi masyarakat, mahasiswa sendiri merupakan kelas sosial menengah yang mudah masuk langsung ke masyarakat, maka mereka sering dipercaya untuk menjadi konseptor dan eksekutor harapan dan aspirasi-aspirasi rakyat yang bisa menggerakkan setiap perubahan di bangsa ini.
Para aktivis pergerakan mahasiswa hari ini hendaknya memikirkan konsep regenerasi kepemimpinan pergerakan mahasiswa ke depan guna melanjutkan apa yang menjadi visi-misi menuju tatanan masyarakat yang adil, sejahtera dan makmur. Keberhasilan sebuah gerakan kepemimpinan pada hakikatnya tidak diukur hanya pada satu periode saja, tapi juga dilihat dari daya tahan pergerakan pada masa-masa selanjutnya apakah terjadi kemunduran atau kemajuan supaya terus menjadi evaluasi dan pembelajaran generasi berikutnya.
Diantara faktor yang menentukan pergerakan adalah dinamika gerakan itu sendiri olehnya itu sangat di butuhkan penggemblengan di dalam organisasi dan kaderisasi yang matang. Itulah dengan krisisnya kepercayaan mahasiswa dari masyarakat hari ini menjadi imbas dari pada lemahnya organisasi internal maupun eksternal untuk membawa kontribusi lebih besar di tengah-tengah masyarakat sebagai orientasi dari pada tangung jawab, peran dan fungsi sebagai mahasiswa, apa lagi masalah bangsa yang begitu banyak dari tataran nasional maupun lokal serta elit-elit politik yang tak lagi memikirkan masa depan masyarakat.
Olehnya itu perlu disusun alur kaderisasi yang baik dan matang untuk kepemimpinan pergerakan mahasiswa di kampus yang integral dan komprehensif. Kaderisasi ini dilakukan secara terus menerus sehingga ia menjadi kawah candradimuka yang melahirkan para pemimpin pergerakan yang tangguh dan mempunyai idealisme tinggi. Idealnya para pemimpin lembaga kampus dan pergerakan mahasiswa muncul melalui sebuah proses yang panjang yang banyak benturan-benturan hingga sampai terbentuk dan bukan pemimpin karbitan pragmatis yang muncul tiba-tiba tanpa penguasaan konsep, tempaan masalah dan pengalaman yang mumpuni.
Olehnya itu penting nya kaderisasi dalam sebuah organisasi untuk menciptakan dan membentuk karakter kepemimpinan yang berkepribadian sangat di butuhkan di tengah degradasi kepemimpinan saat ini.
Pimpinan pergerakan mahasiswa harus menjadi icon dalam percaturan bangsa ini baik dari kelompok kelembagaan mahasiswa intra maupun ektra kampus. Ia merupakan pengambil keputusan dan leader tertinggi di lembaganya yang harus mempertanggungjawabkan pengelolaan lembaga tersebut kepada mahasiswa lainnya karena dia mewakili seluruh mahasiswa yang dia pimpinnya.
Seorang pimpinan pergerakan mahasiswa idealnya memang seorang pemimpin mahasiswa yang memiliki tugas dan wewenang contohnya: Mengkomunikasikan wacana pergerakan mahasiswa dan strategi umumnya kepada tim intinya dengan diskusi yang mendalam, Melakukan rencana penggalangan dan kordinasi untuk mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan tetapi faktanya sangat minim dan krisis sekali untuk melakukan penyatuan gerakan.
Pengurus kelembagaan perlu membangun kordinasi yang baik sebagai jantung pergerakan untuk menggalang kekuatan massa dan tak hanya itu organ internal kampus juga harus mampus menggandeng lembaga pergerakan mahasiswa lainnya untuk membentuk sebuah aliansi dari berbagai elemen dan eksponen dalam perjuangan sehingga wacana pergerakan mahasiswa yang digulirkan dapat menjadi konsumsi dan sorotan publik untuk menarik simpati dan empati, mengelola dan mengendalikan pengurus lembaga kemahasiswaan sebagai bentuk konsolidasi institusional.
langkah itu juga sebagai upaya penguasaan opini dengan melakukan propaganda dan agitasi di dalam kampus maupun di luar kampus melalui berbagai sarana dan instrumen komunikasi pergerakan yang ada. Itu sala satu alternatif cara dan strategi merespon isu lokal dan nasional dengan cepat dengan banyaknya kebijakan pemerintah yang simpang siur dan tidak pro terhadap rakyat.
Dalam kondisi seperti itu, maka mekanisme regenerasi kepemimpinan pergerakan ini bisa melalui dua proses, yaitu proses internal komunitas aktifis pergerakan dan proses eksternal aktifis pergerakan. Peran dan strategi kelompok mahasiswa sangat di butuhkan dan solusi di tengah kekeroposan yang menggerogoti tubuh bangsa ini, korupsi kolusi nepotisme, kemiskinan, kurangnya akses dan biaya pendidikan dan lain sebagainya.
Pergerakan mahasiswa merupakan instrumen yang dapat melakukan advokasi masyarakat dan bangsa yang masih seringkali menjadi korban dari kebijakan yang tidak berpihak kepada mereka. Partisipasi rakyat dalam pergerakan mahasiswa ini dilakukan dalam rangka mempengaruhi pemerintah dalam pengambilan keputusan.
Partisipasi Mahasiswa
Partisipasi mahasiswa ini pun sebagai sarana pendidikan dan pembelajaran juga bagi kader-kader pergerakan, sekaligus sarana penyebaran pemikiran ideologi, nilai-nilai perjuangan, wacana, ide dan gagasan pergerakan mahasiswa dan menciptakan pemimpin-pemimpin bangsa ke depannya. Bagaimana tidak, citra kelembagaan kampus seakan akan hilang dengan akibat tindakan pragmatis di sisi lain terjadi krisis legitimasi di mana lembaga kampus tidak lagi menjadi jembatan dan solusi dalam merespon segala masalah dan isu yang di hadapi bangsa ini.
Menurut penulis seharusnya kita terus mendorong kebebasan mahasiswa dalam menentukan sikap politik, membangun wacana pergerakan serta terus membangun jejaring kerja-kerja konsolidasi dan mobilisasi seperti apa yang kita harapkan, sehingga kualitas demokrasi kampus itu bisa terus meningkat seiring dengan partisipasi mahasiswa dalam mengawal isu-isu yang krusial.
Ada degredasi wacana, dimana kampus lebih sering mengadakan diskusi motivasi dibanding diskusi idiologis gerakan. Tradisi intelektual hidup karena ada perdebatan, konfrontasi dan wacana, sedangkan birokrasi kampus berupaya untuk menghilangkan tradisi tersebut, karena jika tradisi itu hidup maka akan menjadi ancaman bagi oligarki kekuasaan.
Melihat keadaan tersebut, berharap bahwa semua mahasiswa memiliki tradisi intelektual yang mengarah ke pembebasan sosial yang memiliki partisipasi dan antusias yang besar. Seharusnya dengan iklim kebebasan dan demokrasi kita menjadikan lembaga semakin baik, kuat dan mampu menjadi solusi di tengah banyaknya persoalan. Pengetahuan dan intelektualisme bisa menjadikan pisau analisis untuk membeda untuk melihat segala peta persoalan hingga tradisi intelektual organik bisa membawa perjuangan emansipasi membuat imajinasi perlawanan mereka bersifat progresif dan revolusioner.
*Tradisi Tahunan dan Momentum Berharga*
Menjadi salah satu momen yang penuh makna dan keistimewaan bagi para calon mahasiswa. Tradisi tahunan ini tidak hanya sekadar acara seremonial, tetapi juga menjadi awal bagi mahasiswa untuk menyelami kehidupan akademik, ruang kawah candradimuka dan peran mereka dalam perubahan sosial. Mahasiswa adalah tulang punggung masa depan bangsa, daerah, dan negara. Mereka memikul tanggung jawab besar sebagai estafet kepemimpinan yang akan memperbaiki tatanan sosial, ekonomi, politik, dan budaya di Indonesia. Posisi mahasiswa sebagai intelektual yang tercerahkan memberikan mereka peran strategis dalam menggerakkan perubahan.
Sejarah telah membuktikan bahwa mahasiswa memiliki kekuatan besar untuk mengubah perjalanan bangsa. Perubahan itu tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses panjang, perjuangan, dan konsistensi yang tinggi.
Jika kalian adalah generasi baru yang akan menjadi bagian dari sejarah, ciptakanlah sesuatu yang berbeda dari sekitar kalian. Kehadiran mahasiswa tidak hanya untuk berdiri di menara gading, tetapi harus mampu berkontribusi langsung kepada masyarakat, Tuntunlah dirimu menjadi satu kesatuan yang akan menjadi kekuatan pengubah. Tantangan yang dihadapi mahasiswa saat ini, seperti disorientasi dan krisis legitimasi dalam peran kontrol sosial mereka. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap mahasiswa.
Menjadi pemimpin mahasiswa berarti membangun harapan dan visi yang jauh ke depan melampaui generasi, sesuai dengan cita-cita pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Mulailah dengan tanggung jawab kita sebagai mahasiswa, seperti membaca, diskusi, menulis, dan aksi. Tradisi intelektual harus tetap hidup, karena ini yang akan menghidupkan wacana kritis di kampus.Pentingnya kaderisasi yang matang untuk memastikan keberlangsungan gerakan mahasiswa di kampus. Proses kaderisasi yang baik akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang tangguh, bertanggung jawab, dan memiliki idealisme tinggi.
Penulis : Rasmin Jaya/ Mantan Ketua KPMM 2020-2021, Mantan Ketua Komisariat GMNI FISIP UHO 2020-2021, Mantan Pengurus BEM UHO 2020-2021, Sekarang menjabat sebagai Ketua DPC GMNI Kendari periode 2023-2025.
KENDARI24.com – Perguruan Tinggi kerap dipandang sebagai tempat dimana kecerdasan dan prestasi mahasiswa diberdayakan untuk mencapai tujuan akademis dan reputasi yang lebih tinggi. Namun dibalik sorotan gemilang itu, ada realitas yang gelap, eksploitasi prestasi mahasiswa tanpa memberikan kontribusi yang setimpal kepada mereka.
Pihak kampus seringkali hanya memanfaatkan prestasi ini sebagai alat untuk kepentingan mereka sendiri, tanpa memperhatikan kepentingan, kebutuhan, atau kesejahteraan mahasiswa yang sebenarnya merupakan pilar utama lembaga pendidikan itu sendiri dan itu semua terjadi di Perguruan Tinggi Negeri IAIN Kendari.
Praktek eksploitasi prestasi yang dilakukan oleh pihak kampus IAIN Kendari itu diakui oleh para mahasiswa yang merasa telah dieksploitasi prestasinya. Mereka tidak pernah mendapatkan support dari pihak kampus dalam kegiatan yang sifatnya prestasi, baik dukungan secara moril maupun materil.
Saat berprestasi kemudian pihak kampus malah meminta foto beserta nama mahasiswa dan mengklaim prestasi itu melalui media social. Secara sadar mereka merasa terlukai dengan itu, sebab kampus tidak pernah mensupport mereka dalam mengikuti kegiatan.
Sangat disayangkan telah terjadi “Penghancuran Kejujuran Intelektual” prestasi akademik dan non-akademik yang dihasilkan oleh mahasiswa khususnya di IAIN Kendari adalah hasil dari kerja keras, dedikasi, dan inovasi mereka sendiri. Namun, pihak kampus sering kali dengan seenaknya memanfaatkan pencapaian ini untuk kepentingan institusi tanpa memberikan pengakuan yang layak, mahasiswa dijadikan sebagai komoditas, diambil manfaatnya, dan dibiarkan tanpa apresiasi yang setara.
Disamping itu, ini semua merupakan penjajahan atas prestasi, kontribusi nyata yang diberikan mahasiswa kepada institusi melalui prestasi mereka sering kali tidak diakui atau dihargai secara layak. Pihak kampus lebih tertarik pada memperbesar nama baik daripada memberikan dukungan yang sepadan kepada mahasiswa yang telah mengangkat reputasi lembaga mereka.
Prestasi mahasiswa digunakan untuk memperkuat posisi kampus dalam peringkat akademik, tetapi manfaat finansialnya jarang sampai kepada mereka yang sebenarnya berkontribusi. Mahasiswa dibiarkan menghadapi beban biaya pendidikan yang terus meningkat sementara kampus menikmati manfaat finansial dari prestasi mereka.
Praktik ini mengkhianati nilai-nilai inti pendidikan, yang seharusnya memberdayakan dan mendukung mahasiswa untuk berkembang maksimal. Alih-alih menjadi fasilitator pertumbuhan dan kesuksesan, pihak kampus seringkali menjadi predator yang tidak peduli dengan nasib mahasiswa setelah mereka mencapai prestasi.
Perguruan tinggi harus bertanggung jawab secara moral dan etis untuk mengubah paradigma ini. Mereka harus menghargai dan memberdayakan mahasiswa dengan cara yang lebih substansial, termasuk memberikan insentif yang adil, dukungan berkelanjutan, dan transparansi dalam penggunaan prestasi mereka.
Kampus yang sejati harus mengakui bahwa prestasi mahasiswa bukanlah milik mereka untuk dieksploitasi, tetapi merupakan hasil dari upaya keras dan dedikasi individu. Kehidupan akademis yang sehat dan berkelanjutan hanya dapat dicapai jika kampus mengubah pola pikirnya dari memanfaatkan menjadi mendukung, dari mengambil keuntungan menjadi memberikan nilai tambah yang nyata bagi mahasiswa yang telah memberikan kontribusi begitu besar pada lembaga mereka.
Dalam penyampaian kritik ini, penulis berharap agar kampus dan masyarakat akademis secara keseluruhan dapat merenungkan kembali peran mereka dalam memberdayakan mahasiswa dengan cara yang lebih etis dan adil.
OPINI: Oleh, Apriyansyah Ketua SEMA IAIN Kendari Periode 2024-2025
Penulis merupakan mahasiswa aktif program studi perbankan syariah angkatan 2020 yang juga mantan ketua BEM FEBI IAIN Kendari. (**)
Polda Sultra Catat Penurunan Kecelakaan 14 Persen Selama Operasi Ketupat
Rasmin Jaya Alumni Fisip UHO Terbitkan Karya Berjudul Transformasi dan Wacana di Era Distrupsi
Sindikat Pencuri Rumah Kosong di Kendari Dibekuk, Polisi Amankan Sejumlah Barang Bukti
Terduga Pelaku Illegal Mining Direktur PT DMS 77 Ditangkap Saat Hendak Melarikan Diri
Mutasi Kapolri, Kombes Pol Bambang Wijanarko Jabat Ditreskrimsus Polda Sulawesi Tenggara
Perusahaan Tambang PT Bintang Mining Indonesia Diduga Garap Hutan Tanpa Legalitas
Eks Plt Kadis ESDM di Jebloskan Ke Sel Tahanan, Tersangka Kabid Minerba Entah Kemana..?
Kejati Sultra Sita Dokumen Dugaan Korupsi Pertambangan Di Dinas ESDM Sultra
Diduga Malapraktik Rumah Sakit, Seorang Balita Terancam Cacat Permanen
Trending
-
Hukum & Kriminal3 tahun agoTerduga Pelaku Illegal Mining Direktur PT DMS 77 Ditangkap Saat Hendak Melarikan Diri
-
Hukum & Kriminal4 tahun agoMutasi Kapolri, Kombes Pol Bambang Wijanarko Jabat Ditreskrimsus Polda Sulawesi Tenggara
-
Hukum & Kriminal4 tahun agoPerusahaan Tambang PT Bintang Mining Indonesia Diduga Garap Hutan Tanpa Legalitas
-
Hukum & Kriminal3 tahun agoKecelakaan Maut di Konsel, Dua Orang Berboncengan Tewas Ditabrak Truk
-
Hukum & Kriminal5 tahun agoUang Rp.9,6 Miliar Bank Sultra Hilang, 21 Saksi Dipanggil Polisi !!
-
Hukum & Kriminal4 tahun agoAksi Perompak Sandera 8 ABK di Perairan Morosi Konawe
-
Hukum & Kriminal3 tahun agoPejabat Kementerian ESDM Kembali Ditetapkan Tersangka Kasus Korupsi Tambang di Konawe Utara
-
Politik5 tahun agoPlt Bupati Kolaka Timur Pilih Istri Almarhum Samsul Bahri Majid
