KENDARI – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara menggelar rapat koordinasi dan sosialisasi kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi dan cuaca ekstrem menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di Rapat ruangan Command Center Pusdalops BPBD Provinsi Sulawesi Tenggara. Kamis (18/12/2025).
Kegiatan merupakan tindak lanjut dari penetapan Surat Keputusan Gubernur Sultra tentang Pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Siaga Bencana Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2025/2026.
Selain membahas tugas, fungsi, dan mekanisme kerja Satgas Siaga Bencana, rapat juga membicarakan kesiapan peresmian dan aktivasi Posko Siaga Bencana Provinsi Sulawesi Tenggara, Apel Siaga, serta uji protap bencana tanah longsor (TFG) yang melibatkan lintas sektor.
Kegiatan tersebut diikuti oleh berbagai instansi terkait, termasuk unsur pelayanan kesehatan. Rumah Sakit Korem 143/Haluoleo Kendari turut ambil bagian dalam kegiatan ini melalui keterlibatan aktif pada uji protap bencana alam sebagai bentuk kesiapan pelayanan medis dalam situasi darurat.
Kepala Rumah Sakit (Karumkit) RS Korem 143/Haluoleo Kendari, Kapten Ckm dr. Idul Saputra, S.I.P., M.H., FIMMA, mengatakan bahwa uji protap tersebut menjadi sarana penting untuk mengukur kesiapan rumah sakit dalam merespons kejadian bencana secara cepat dan terkoordinasi.
“Melalui uji protap bencana alam ini, kami memastikan seluruh prosedur penanganan darurat, mulai dari kesiapan tenaga medis, alur evakuasi pasien, hingga sistem rujukan berjalan sesuai standar,” ujar dr. Idul Saputra.
Ia menegaskan, RS Korem 143/Haluoleo Kendari siap bersinergi dengan BPBD, TNI, Polri, serta seluruh pemangku kepentingan dalam memberikan pelayanan kesehatan optimal kepada masyarakat apabila terjadi bencana.
“Sinergi lintas sektor sangat penting agar penanganan korban bencana dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terintegrasi, terutama menjelang periode Natal dan Tahun Baru,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara berharap kesiapsiagaan seluruh unsur, termasuk fasilitas kesehatan, semakin optimal dalam menghadapi potensi bencana alam di wilayah Sulawesi Tenggara.(**)