Ragam

Najwa dan Lampu Merah Wua-Wua: Ketika Masa Kecil Terkikis di Jalan Raya

Published

on

AKP Kevin Fahri Ramadan, Kasat Lantas Polresta Kendari

KENDARI – Petang itu, lampu merah di perempatan PLN Wua-Wua Kendari masih ramai seperti biasanya. Deru kendaraan bercampur gerimis, anak-anak bergerak di sela-sela mobil, dan berlarian menawarkan tisu kepada pengendara yang berhenti. Di antara mereka, ada Najwa, bocah 8 tahun yang seharusnya menikmati masa kanak-kanak di bangku sekolah.

Namun, pada Kamis (29/1/2026) petang itu menjadi hari yang tak pernah dibayangkan keluarganya. Najwa tewas setelah terlindas alat berat jenis loader di perempatan tersebut. Tragedi ini bukan hanya kecelakaan lalu lintas biasa, ia menjadi potret getir tentang anak-anak yang terpaksa bekerja di jalan demi bertahan hidup.

Najwa diketahui sering membantu keluarganya dengan berjualan tisu bersama saudaranya di lampu merah. Uang receh dari pengendara bukan sekadar tambahan, tetapi menjadi penopang kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolahnya. Jalan raya, yang seharusnya aman bagi anak-anak, justru menjadi tempat ia mencari nafkah.

Di sisi lain, penyelidikan polisi menunjukkan bahwa kecelakaan ini bermula dari kelalaian penggunaan alat berat di jalan umum. Kasat Lantas Polresta Kendari AKP Kevin Fahri Ramadan menjelaskan, pihaknya segera memeriksa saksi-saksi dan menganalisis rekaman CCTV.

Hasilnya mengarah pada sebuah loader yang dikemudikan ZA (36). Alat berat itu kini diamankan di Mapolresta Kendari, sementara ZA masih menjalani pemeriksaan intensif. Ia dijerat Pasal 310 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan ancaman maksimal enam tahun penjara.

Kasat Lantas menegaskan bahwa alat berat seharusnya tidak melintas di jalan raya.

“Untuk alat berat ini, tidak boleh jalan sendiri di jalan raya, karena memang bukan peruntukkannya, apabila mau berjalan harus menggunakan towing (truk pemuat) untuk menuju lokasi kerja,” katanya.

Di balik proses hukum, duka keluarga Najwa masih sangat terasa. Mereka kehilangan seorang anak yang ceria, sekaligus kehilangan harapan kecil yang ikut membantu ekonomi keluarga.

Peristiwa ini juga menggugah pertanyaan lebih besar, sampai kapan anak-anak harus mempertaruhkan keselamatan di jalan demi bertahan hidup.

Fenomena anak di Kendari yang berada dalam kondisi serupa menjual tisu, air mineral, atau sekadar meminta belas kasihan di lampu merah. Mereka tumbuh di persimpangan antara kemiskinan dan risiko.

Tragedi Najwa seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah daerah. Diperlukan solusi nyata, bantuan ekonomi keluarga miskin, program perlindungan anak, dan alternatif pekerjaan yang layak bagi orang tua mereka, agar anak-anak tidak lagi harus mencari nafkah di jalanan.

Najwa telah pergi. Namun, harapannya masih bisa hidup—jika kota ini memilih melindungi anak-anaknya, bukan membiarkan mereka berjuang sendirian di tengah arus kendaraan (**)

Trending

Exit mobile version