KENDARI24.COM – Rasmin Jaya, penulis buku berjudul “Transformasi dan Wacana di Era Distrupsi”, mendorong penguatan kualitas literasi dan keterlibatan pemerintah dalam mendukung penyediaan akses bacaan.
Harapan tersebut disampaikan pada saat podcast bersama RRI Kendari bersama host Yayan pada Rabu, 23 April 2026.
Pemerintah juga harus berperan krusial dan strategis dalam membangun budaya literasi melalui regulasi, serta penyediaan sarana perpustakaan dan buku guna meningkatkan SDM.
Peran pemerintah dalam hal ini seperti penyusunan kebijakan dan regulasi. Pemerintah membuat regulasi untuk penguatan literasi melalui sistem pendidikan nasional, perpustakaan, dan perbukuan.
Tak hanya itu, Rasmin Jaya juga mendorong agar pemerintah bertanggung jawab dalam penyediaan sarana fisik seperti gedung sekolah yang layak, perpustakaan daerah, serta memfasilitasi akses bacaan berkualitas.
Peran strategis pemerintah daerah adalah sebagai fasilitator dan dinamisator dalam pengentasan buta aksara serta peningkatan literasi masyarakat.
Kita berharap ke depan pengembangan literasi demi meningkatkan wawasan masyarakat harus dilakukan secara terus-menerus, dan literasi digital dapat dimanfaatkan untuk menekan laju informasi yang mengandung kebohongan (hoaks).
“Penguatan literasi dan gerakan gemar membaca menjadi salah satu hal yang harus menjadi prioritas pemerintah untuk mengurangi tingkat kemiskinan, mendorong SDM yang maju dan berdaya saing, sebab itu akan membantu pembangunan bangsa dan daerah,” tegasnya.
Banyaknya informasi yang simpang siur di internet membawa dampak negatif yang tidak sedikit. Hal ini harus diantisipasi.
“Kita harus bisa membuat masyarakat cerdas dengan kemajuan teknologi, agar kelak tidak termakan isu yang tidak bertanggung jawab,” jelasnya.
Rasmin Jaya menceritakan bagaimana lahirnya sebuah karya melalui proses kreatif yang disertai tantangan dan hambatan, namun tetap konsisten untuk menghasilkan karya terbaik dalam bentuk yang utuh.
Ia menggambarkan, di era distrupsi, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat dan memengaruhi berbagai aspek kehidupan, terutama budaya literasi menulis. Kemajuan ini menghadirkan tantangan baru bagi mahasiswa.
Jika tidak diimbangi dengan proses menulis dan literasi yang baik, teknologi justru dapat membawa dampak negatif, seperti penyebaran hoaks, perundungan (bullying), dan isu SARA yang mengemuka di ruang publik. Perkembangan teknologi ini perlu difilterisasi secara bijak agar dampak negatifnya dapat diminimalisir.
Namun, di sisi lain, kemajuan ini menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas percakapan publik melalui pengetahuan dan informasi. Budaya menulis akan terus berkembang seiring upaya kecil yang dilakukan secara konsisten dan tekun untuk membentuk karakter bangsa yang kuat dan beradab.
Dari tradisi literasi membaca, diskusi, menulis, dan aksi menjadikan kita semakin produktif dan terus berkembang. Jika ingin mengetahui dunia maka membacalah, dan jika ingin terkenal maka menulislah.
Pekerjaan menulis bukan hanya sekadar urusan keterkenalan atau popularitas. Lebih dari itu, menulis sejatinya merangkum ide, pikiran, dan gagasan yang bisa dibaca bahkan dapat memengaruhi publik. Menulis bisa dilakukan secara otodidak dan semua orang memiliki hak serta kesempatan yang sama untuk berkarya.
Ia merupakan proses mencoba, dengan syarat perlu membaca dan memiliki gagasan. Penulis adalah mereka yang membaca, bersentuhan langsung dengan dinamika dan fenomena, serta terpicu untuk menuliskannya.
Menulis di media massa bisa dilakukan siapa saja, dan menulis itu 99 persen gagasan serta 1 persen teknis. Proses menulis dapat menghilangkan stres dan kepengapan akibat banyaknya pikiran yang tertahan di otak, sehingga perlu untuk dituliskan.
Mantan Ketua DPC GMNI Kendari ini juga membeberkan bahwa kebiasaan menulis membuat kita terus belajar dan aktual. Penulis adalah manusia pembelajar yang selalu penasaran dan ingin mengetahui berbagai hal, serta harus menggali ide-ide dan menuliskannya. Bacaan dan fenomena apa pun merupakan instrumen pembelajaran. Penulis memerlukan gagasan, tanpa itu tidak ada yang ditulis.
Tanpa sikap terbuka dan kemampuan menyerap banyak hal, tidak akan ada gagasan yang istimewa. Penulis seyogianya inklusif. Bagi penulis, publikasi sangat penting karena dapat mendistribusikan ide dan gagasan ke publik serta memperoleh respons balik dari pembaca.
Ia menjelaskan pengalamannya bahwa media massa dijadikan sebagai instrumen distribusi gagasan sekaligus panggungnya. Proses menulis dan pembacaan fenomena sosial berperan sebagai nutrisi bagi otak. Seperti halnya tubuh yang membutuhkan gizi untuk tetap sehat, otak membutuhkan asupan pengetahuan agar tetap tajam. Di tengah kondisi bangsa yang sarat tantangan, budaya menulis sangatlah penting. Sebagai mahasiswa, kita memiliki tanggung jawab untuk terus belajar.
Buku ini lahir atas keresahan pikiran penulis dengan melihat berbagai dinamika pergolakan wacana di semua sektor, sekaligus menjawab kebuntuan saluran demokrasi dalam menyampaikan pikiran, gagasan, ide, serta pandangan di ruang publik.
Buku tersebut juga lahir dari pergumulan aktivitas keseharian dan menyentuh berbagai pokok persoalan fundamental serta substansial. Tulisan disajikan apa adanya, tidak terlalu ilmiah, sehingga berbagai lapisan masyarakat dapat membaca, membuka mata, hati, dan pikiran tentang apa yang sedang dialami daerah dan bangsa ini. Bukan hanya tentang politik, pendidikan, sosial, mahasiswa, demokrasi, dan pemilu, tetapi juga berbagai wacana lain yang dituangkan dalam satu tarikan napas buku ini.
Pikiran, ide, dan gagasan akan terus lahir mengenai harapan dan prospek ke depan agar dapat menjadi arah pembangunan dan kesejahteraan masyarakat, serta dapat dibaca langsung oleh para pemangku kepentingan dalam mengambil kebijakan.
Sebab ia memandang, di tengah kondisi bangsa yang sarat tantangan, budaya menulis menjadi sangat krusial. Sebagai mahasiswa, kita memiliki tanggung jawab untuk terus belajar.
“Buku adalah laboratorium dan jendela dunia yang telah membuktikan diri sebagai pilar kemajuan peradaban. Mahasiswa perlu memupuk budaya membaca dan menulis yang kuat dengan mengedepankan pikiran kritis, progresif, dan kreatif. Jika mahasiswa mengalami degradasi budaya menulis, masa depan bangsa akan terancam, sebab mahasiswa adalah calon pemimpin masa depan,” harapnya.